Ekonomi Bisnis Harga Sawit Bakal Turun

Harga Sawit Bakal Turun

1088
0
BAGIKAN
Ilustrasi. Foto: JPNN.com

Akibat Pasar Global Melemah

JAMBI – Ekspor minyak sawit atau crude palm oil (CPO) di Provinsi Jambi pada bulan Februari 2017 mengalami penurunan. Berdasar data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik Provinsi Jambi, ekspor minyak nabati (didominasi CPO) ke pasar global, mengalami penurunan sebesar 23,88 persen pada bulan Februari 2017 sebesar 16.210 267 Dolar AS, dari sebelumnya USD 21,297 juta pada bulan Januari 2017. Dampaknya, harga sawit di tataran petani diprediksi bakal turun.

“Penurunan ekspor minyak sawit lantaran permintaan pasar global yang melemah hampir di semua negara tujuan ekspor,” jelas Kimpul Wakil Sektretaris Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Jambi, dua hari lalu.

Sejauh ini, menurutnya, pejualan CPO asal Indonesia sangat dipengaruhi oleh pasar global baik dari sisi permintaan atau harga. Seperti saat ini, di pasar global minyak CPO harus bersaing dengan minyak kedelai yang kini sedang panen raya.

“Harga anjlok karena sentimen negatif dari harga minyak kedelai sebagai komoditas subtitusi di pasar global,” terangnya lagi.
Berdasar data Kementerian Perdagangan yang dilansir oleh marketbisnis.com (30/3), harga referensi produk CPO untuk periode April 2017 dipatok sebesar US$ 762,88 per ton, turun US$ 63,02 atau 7,63 persen dari bulan sebelumnya senilai US$ 825,9 per ton. Adapun bea keluar turun menjadi US$ 3 per ton dari Maret 2017 sebesar US$ 18 per ton. Harga referensi dan bea keluar tersebut berlaku pada tanggal 1-30 April 2017.

Pada kuartal II/2017, harga diperkirakan berpeluang mengalami pelemahan terbatas dengan level support 2.530 ringgit per ton dan level resistance 2.800 ringgit per ton. Sisi permintaan juga bakal meningkat pada kuartal kedua, karena tingginya konsumsi negara-negara dengan penduduk mayoritas muslim menjelang Ramadhan. Bulan puasa pada tahun ini jatuh pada tanggal 27 Mei—24 Juni 2017.

“Sebenarnya untuk harga invoice CPO sangat berfluktuatif dalam setiap harinya. Dari invoice itulah akhirnya kita dapat menentukan berapa harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit yang dibahas saat rapat setiap minggunya,” ujar Putri Rainun, Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Dinas Perkebunan Provinsi Jambi.

Pelemahan harga minyak sawit mentah di pasar global, berdampak langsung pada harga TBS kelapa sawit. Dalam rapat TBS kelapa sawit setiap minggu di Dinas Perkebunan Provinsi Jambi, penetapan harga berfluktuatif. Untuk minggu ini saja harga tertinggi sawit usia 21-24 tahun Rp 1.791,91 per Kg dan harga terendah untuk sawit berusia 3 tahun Rp 1.443,95 per Kg.
“Harga memang berfluktuatif. Namun jika dirata-ratakan harga cenderung turun,” ujar Putri Rainun.

Sementara itu Kepala Perwakilan Bank Indonesia V Carlusa mengatakan, Provinsi Jambi mau tidak mau harus segera beranjak dari ketergantungan sektor primer (pertanian, kehutanan dan perikanan serta pertambangan dan penggalian) menuju sektor sekunder berbasis industri komoditas unggulan (migas, kelapa sawit dan karet) yang didukung sektor jasa yang kompetitif.

“Selama ini, sektor industri Jambi masih berstatus industri barang setengah jadi seperti CPO dan crumb rubber. Ke depan, Pemerintah perlu mendorong industri hilir (barang jadi) yang memanfaatkan melimpahnya komoditas CPO dan crumb rubber seperti industri minyak goreng, oleokimia dan produk karet seperti ban, pernak-pernak kebutuhan rumah tangga dari karet,” ujarnya.

Bahkan, dari kian melemahnya harga komoditi sawit dan karet sejak Maret 2017, dan diperkirakan akan terus berlanjut hingga Triwulan II, akan berpengaruh besar terhadap perekonomian Jambi. Belum lagi harga minyak global yang juga cendrung turun, sehingga akan berimbas pada laju pertumbuhan ekonomi.

Dari beberapa faktor tersebut, Bank Indonesia Provinsi Jambi memprediksikan laju pertumbuhan tahunan Provinsi Jambi pada triwulan II-2017 diperkirakan berada pada kisaran 5,39 persen – 5,89 persen (year on year/yoy), lebih rendah dibanding proyeksi triwulan I-2017 pada kisaran 5,93 persen – 6,43 persen (yoy) maupun realisasi triwulan IV-2016 (6,35 persen yoy).

“Namun, proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun 2017 secara keseluruhan diperkirakan akan berada pada kisaran 4,95 persen-5,45 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan tahun 2016 yakni 4,37 persen,” jelas V Carlusa.

Sedangkan pengamat ekonomi Jambi Dr Pantun Bukit mengatakan, di tahun 2017, pemerintah harus terus mendorong industri hilirisasi. Ini harus kontinyu agar terlihat dampaknya. Supaya sejalan, harus segera dibangun kawasan industri, menyiapkan infrastruktur dan pemberian insentif kepada investor yang mau membuka usaha hilirisasi.

Sementara itu, Restu Wiyono, Ketua KUD Bina Karya Muara Delang Tabir Selatan, Merangin, saat dimintai tanggapannya mengaku pasrah jika memang terjadi penurunan harga sawit. “Ya mau bagaimana lagi,” ujarnya.

Diakuinya, penurunan harga sudah terjadi beberapa pekan terakhir. Harga tandan buah segar (TBS) terakhir, kini tinggal Rp 1.630 per kilogram dari sebelumnya Rp 1.900 per kilogram.
“Sekarang harga sawit Rp 1.630 sejak tanggal 28 Maret kemarin. Sebelumnya itu Rp 1.900 turun menjadi Rp 1.700, turun lagi jadi Rp 1.670, turun lagi Rp 1.660, Rp 1.635 terakhir Rp 1.630. Jarak penurunan harga ini kisaran setengah bulan, adajuga yang jarak 10 hari,” katanya.

Menurutnya, ini tentu akan berdampak bagi anggota KUD-nya, termasuk masyarakat di daerahnya. Karena mayoritas masyarakat merupakan petani sawit.
Untuk mengatasi penurunan yang terus terjadi tersebut, petani sawit kini harus pintar menyiasati kebutuhan rumah tangga mereka. Agar bisa terus mencukupi hingga masa panen berikutnya.

Para petani juga bisa beralih dengan usaha lain untuk menambah kebutuhan keluarga. Misalnya dengan menanam sayuran di pekarangan rumah atau lahan-lahan yang tersedia.

“Memang ada penyuluh pertanian dan Kepada Desa mengimbau agar masyarakat menanam palawija, mungkin ini salah satu solusi,” tuturnya.
Jika memang penurunan harga ini terus terjadi, dikhawatirkan petani yang mempunyai kredit kendaraan, ini akan terancam tak terbayar. Apalagi saat ini banyak sawit milik petani yang sudah tidak produktiv lagi karena faktor usia sawit dan lainnya.

“Untuk biaya anak-anak sekolah juga khawatir. Misalnya untuk jajan anak-anak yang sekolah SD, biasanya Rp 5 ribu sehari, terpaksa kita kurangi jadi Rp 2 ribu,” pungkasnya.
Sementara itu Sukasno, Kepala Desa Meranti, Kecamatan Renang Pamenang, Merangin, saat dimintai tanggapannya mengakui jika dua bulan terakhir harga sawit di tingkat petani terus mengalami penurunan.

Dari Rp 1.800 per kilogram seminggu lalu tinggal Rp 1.575. “Kalau sekarang kita tidak tahu pasti berapa karena belum ada panen. Turunnya itu sedikit-sedikit, misalnya turun Rp 40, turun Rp 50,” akunya.

Penurunan harga ini tentu memberikan dampak terhadap daya beli petani. Karena untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mayoritas masyarakatnya mengandalkan perkebunan kelapa sawit.
“Secara umum akan kena semua dampaknya, termasuk untuk biasa anak-anak sekolah. Karena itu sudah ketetapan harga dari pemerintah, kita mau bagaimana lagi,” katanya.
Ia mengimbau kepada masyarakat yang punya lahan kosong, silakan dimanfaatkan untuk menanam sayuran sebagai tambahan pendapatan. Jika tak bisa dijual, setidaknya untuk dikonsumsi sendiri.

“Kalau ada potensi untuk penambahan pendapatan, mungkin hanya bisa memanfaatkan pekarangan dengan menanam sayuran. Kalau lahan perkebunan yang ada tanaman sawit, itu tidak bisa digunakan lagi untuk tanaman yang lain,” pungkasnya. (ynn/cas/nas)

Loading Facebook Comments ...

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here