| Ancaman Kemarau |
|
|
|
| Metro Jambi |
| Ditulis oleh JENNIFER AGUSTIA, Kotabaru |
| Kamis, 08 September 2011 13:01 |
|
Dari Asap hingga Flu Burung Musim kemarau tahun ini, Kota Jambi mengalami berbagai ancaman serius bagi masyarakat. Mulai dari kabut asap hingga wabah flu burung. Belum selesai urusan asap, warga kota lagi-lagi dihebohkan dengan wabah flu burung yang kembali menyerang beberapa daerah. Misalnya di RT 23, Kelurahan Thehok, beberapa waktu lalu. Di kawasan itu, ratusan ekor ayam ditemukan mati mendadak. Virus H5N1 kembali menjadi dugaan utama penyebab kematian ayam-ayam itu. “Awalnya dilaporkan ada tiga ratus ekor ayam yang mati mendadak, pertama masalahnya dikerubungi lalat, lantas kami periksa di laboratorium di Provinsi,” ungkap Kepala Dinas Pertanian Peternakan Perikanan dan Kehutanan Kota Jambi Harlik, kemarin (7/9). Dengan adanya kasus itu, Harlik berharap masyarakat Kota Jambi waspada. Jika ditemukan unggas yang mati mendadak, segera musnahkan. Selain itu, aturan-aturan pemeliharaan unggas di pemukiman juga harus diperhatikan warga. Katanya, unggas yang berada di radius 100 meter dari lokasi kejadian harus dimusnahkan. Namun, untuk dikonsumsi, unggas-unggas tersebut masih bisa jika dimasak dengan suhu tertentu. “Kalau yang sakit tapi masih hidup boleh dikonsumsi, asalkan dimasak dengan suhu minimal 70 derajat Celcius,” ujarnya. Namun jika di radius tersebut ditemukan mati, harus segera dimusnahkan agar tidak menular ke unggas lainnya. Sebenarnya, ujar Harlik, sudah ada peraturan daerah (perda) yang mengatur tentang pemeliharaan unggas, Perda tahun 2009. “Itu sudah mengatur mengenai larangan pemeliharaan unggas di kawasan pemukiman,” katanya. Namun bagi masyarakat yang memelihara ayam secara sambilan, harus mengikuti anjuran-anjuran dari dinas. “Paling tidak harus lakukan pembersihan kandang secara rutin, penyemprotan dan disinfektan. Tim kita untuk itu juga sudah ada di masing-masing kelurahan,” bebernya. Jika masyarakat mengikuti anjuran-anjuran tersebut, kemungkinan penyebaran virus flu burung akan berkurang. Asap dan flu burung ternyata tak cukup menjadi ancaman bagi kenyamanan warga kota. Satu lagi, hama ulat bulu. Koloni hewan berbulu itu sudah seringkali ditemukan di Kota Jambi. Salah satunya di Talang Banjar beberapa waktu lalu. “Kita sudah turun ke lokasi, memang di sana ada ulat bulu,” beber Harlik, lagi. Dijelaskan, karena lahan kosong, dan di lahan itu banyak semak belukar, menjadi tempat yang paling disukai ulat bulu untuk berkoloni. Apalagi cuaca kini sedang panas. “Karena cuaca panas juga, ulat bulu mencari tempat untuk berlindung. Dan ulat bulu mulai masuk ke pemukiman warga,” ujarnya. Namun untuk mengatasi hal tersebut, DP3K Kota Jambi melakukan penyemprotan di pemukiman warga. “Kita sudah atasi hal itu, dan bagi masyarakat yang memiliki keluhan atau menemukan hal seperti ulat bulu itu, bisa hubungi ke 0741 5880573,” tandasnya. Bibit Karet Diperkirakan Gagal Satu lagi ancaman kemarau, yakni produksi di sektor perkebunan. Misalnya pembibitan karet. Akibat suhu yang kian panas, pembibitan karet di Dinas Perkebunan Provinsi Jambi terancam molor, bahkan bisa saja gagal. “Ada pengaruh waktu pertumbuhan tunas karena iklim yang panas. Padahal kita sudah menyiapkan penangkaran bibit karet,” ungkap Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jambi Tagor Mulia Nasution. Walaupun terancam molor dan gagal tepat waktu, Tagor mengatakan, target pada bulan Desember tetap terlaksana. Sedangkan sebelumnya pada awal September hingga Desember 2011 ini program peremajaan karet diperkirakan sudah berjalan. Padahal dari sisi kesiapan bibit, seluruh penangkar sudah siap untuk melakukan okulasi batang bawah. Bahkan sudah tersedia, untuk kemudian diberi label biru oleh petugas Disbun. Batang bawah yang tersedia di tingkat penangkar saat ini berjumlah 8.107.500 batang. “Ada pengaruh saat kemarau seperti ini,” keluhnya. Sebelumnya, Disbun Provinsi Jambi menyiapkan 180 kelompok penangkar bibit karet unggul di berbagai kabupaten/kota. Penangkar bibit karet ini disiapkan untuk memenuhi kebutuhan bibit karet unggul. Hal ini guna mendukung program peremajaan karet tua rakyat melalui dana anggaran pendapatan dan belanja daerah perubahan (APBD-P) provinsi tahun 2011. “Para penangkar yang kami bina, antara lain dari Kabupaten Sarolangun, Merangin, Muarojambi, Batanghari, Tebo dan Kota Jambi. Dengan total sekitar 180 penangkar,” terangnya. Sedangkan khusus penangkar yang berasal dari Kota Jambi berlokasi di sekitar TPA Talang Gulo. Tagor mengatakan, Disbun melalui dana APBD-P Provinsi Jambi tahun 2011 ini rencananya akan melakukan peremajaan karet seluas 1.500 hektare. Sehingga membutuhkan 750.000 bibit karet unggul. Sehingga untuk setiap satu hektar lahan, diakuinya membutuhkan bibit sebanyak 500 batang. Sedangkan untuk bantuan bagi petani, diakuinya akan diberikan dalam bentuk bibit dan pupuk. “Sedangkan maksimal lahan yang bisa diremajakan tiap satu orang petani hanya dua hektare. Sedangkan kondisi saat ini ada pengaruh namun kita tetap targetkan Desember bisa berjalan,” tegasnya, lagi.(*/pia) |








![]() | Online Hari ini | 5237 |
![]() | Online Minggu ini | 31916 |
![]() | Online Bulan ini | 151299 |