| Pembacaan 88 Nama Buddha |
|
|
|
| Community |
| Ditulis oleh viz |
| Kamis, 23 Februari 2012 09:11 |
|
JAMBI - Pembacaan 88 nama Buddha dan ritual pertobatan digelar oleh Yayasan Amithaba, kemarin (22/2). Ini masih dalam rangkaian ritual Apihomma sebagai ungkapan kasih sayang kepada leluhur. Hanya saja, untuk ritual kali ini dikhususkan kepada masing-masing umat untuk memperbaiki diri melalui pertobatan dan mengingat nama Buddha sehingga menjadikan mereka semakin dekat dengan Buddha. Ritual ini dimulai sejak pukul 14.00 hingga sore hari. Dimulai dengan pembacaan doa dari bhikkhu yang diundang langsung dari luar negri. Dari pantauan Jambi Independent, seluruh umat harus menggunakan jubah hitam. Ini sebagai simbol kebersamaan dan kesederhanaan. Tidak ada perbedaan manusia di mata Buddha. “Makanya, untuk setiap ritual, umat tidak boleh berpakaian sembarangan. Harus tertutup, sopan dan tidak mencolok,” ujar Asiang, pengurus Yayasan Buddha Amithaba. Setiap umat memagang satu kitab berisi doa yang diucapkan secara bersamaan. Ritual berlangsung khusuk. Bhikkhu pemimpin doa melantunkan doa-doa yang diikuti umat. Lalu, mereka pun mengucapkan 88 nama Buddha. Selama itu pulalah doa terus dipanjatkan. Ini bertujuan agar umat selalu mengingat Buddha. Mendekatkan diri dengan Sang Buddha. “Kita harus selalu melafazkan nama Buddha sehingga kita merasa dekat dengan Buddha. Maka, kita pun akan merasa lebih tenang dan damai,” ujarnya. Pria tambun ini mencontohkan, seandainya kita dekat dengan seseorang, maka apapun hal yang terjadi akan mengadu dan berbicara dengan orang tersebut. Begitu juga dengan Buddha. Dengan selalu melafalkan nama Buddha, maka umat akan merasa dekat dengan Buddha. “Jika kita mendapatkan masalah dalam hidup, maka kita pun akan mengadu dan memohon kepada Buddha. Jiwa dan batin kita pun akan terasa lebih dekat,” bebernya. Pertobatan dilaksanakan dengan melakukan doa. Permohonan agar semua kesalahan yang pernah dimaafkan dan berjanji tidak akan melakukan kesalahan yang sama di tahun mendatang. Ini merupakan janji seseorang yang harus ditepati. Tidak sedikit orang yang hanya mampu mengucapkan janji tetapi tidak melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari. “Makanya jangan hanya sekadar janji. Yang terpenting adalah kita bertobat dan tidak melaksanakan kesalahan lagi. Justru harus memperbaiki manusia yang lebih baik lagi,” tuturnya. Hal yang sama juga diungkapkan oleh Hambali, pengurus Yayasan Buddha Amithaba bahwa dengan melakukan ritual pertobatan, maka diharapkan semua orang akan menjadi manusia yang lebih baik dimasa yang akan datang. “Tentunya kita berharap akan ada kebaikan setiap hari dan setiap tahunnya. Baik dalam sikap, perilaku dan kehidupan sehari-hari,” tuturnya.
|








![]() | Online Hari ini | 7270 |
![]() | Online Minggu ini | 44389 |
![]() | Online Bulan ini | 163772 |