Kaimah, Pelukis Jambi yang Masih Eksis PDF Cetak E-mail
Female
Ditulis oleh cr01   
Rabu, 07 Maret 2012 10:27

PEREMPUAN kelahiran Padang, 1 Januari 1963 ini mengaku melukis sejak masih duduk di SMP. Kegiatan itu, katanya, mendapat support dari orang tuanya. Sehingga kala itu, dia pun bisa terus menjalani hobinya hingga kini.

Melihat bakat dan potensi yang dimiliki, orang tuanya pun kemudian memasukan Kaimah ke sekolah menengah seni rupa (SMSR) di Padang Sumatera Barat. “Sejak itulah bakat melukis saya terus terasah,” ujarnya ketika ditemui di Taman Budaya Jambi Sungai Kambang, kemarin (6/3). 

Bicara tentang aliran lukisan, kata Kaimah, dia berada di aliran dekoratif dan ornamen. “Kebanyakan motif lukisan saya bermotif batik Jambi,” ujarnya. Meski, lanjut Kaimah, dia bukan asli penduduk Jambi, tapi dia sangat mencintai Jambi.

Lama berkutat dengan dunia melukis, perempuan dua anak mengaku telah menghasilkan ratusan karya. Sehingga dia tidak persis berada banyak kuas yang telah digoresnya sehingga menjadi sebuah lukisan apik.

Kata Kaimah, sebagai seniman dia selalu mengangkat keragaman yang berbau Jambi. “Sayang tidak ada generasi yang muda yang kini hobi melukis seperti saya,” ujarnya, miris.

Diakuinya, kini kebanyakan generasi muda hanya melukis kalau ada lomba, setelah itu tidak lagi.

Ketika melukis, kata Kaimah, dia tidak pernah menargetkan berapa lama harus selesai. “Karena melukis itu tergantung kesulitan lukisan,” paparnya.(cro1)

Tawarkan dengan Harga Pertemanan

UNTUK mengenalkan karyanya secara luas, Kaimah pun kerap mengikutkan karyanya ke sejumlah pameran, baik lokal maupun nasional.

“Kebanyakan dipajang di kantor, TBJ Jambi. Kalau Nasional saya pernah pameran ke Jakarta,” paparnya.

Bicara soal harga dari karyanya, Kaimah mengatakan, tidak pernah mematok khusus. Harga yang ditawarkan, katanya, sesuai dengan kerumitannya. “Kebanyakan yang dijual harganya Rp 2,5 juta per satu lukisan,” imbuhnya.

Meski begitu, diakuinya, dia tidak pernah memasarkan karyanya. Umumnya yang datang membeli adalah temannya sendiri yang menyukai karyanya. Karena itu, dia pun menjual dengan harga pertemanan.

Lukisan yang dibuat, kata Kaimah, dibuatnya di atas kanvas dengan menggunakan agrelik, cat air atau cat tembok.

Harga bahan-bahan baku untuk melukis kini diakuinya cukup tinggi bahkan terbilang mahal. Itu pula yang menjadi kendala pelukis untuk  berkarya.

Meski begitu, pelukis, katanya, harus mengabaikan soal harga bahan baku. Karena dalam membuat sebuah karya atau lukisan adalah kepuasan, “Apalagi bisa hasilnya disenangi orang,” ujarnya.

Menutup obrolan siang itu, istri dari Risman ini berharap agar para pelukis Jambi terus berkembang dan berkarya. “Dengan begitu, dapat mengangkat budaya Jambi hingga dikenal makin luas bahkan mendunia,” tegasnya.

 
Baner
Baner
Baner

Cari Artikel

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterOnline Hari ini11154
mod_vvisit_counterOnline Minggu ini48273
mod_vvisit_counterOnline Bulan ini167656
Your IP: 50.16.166.175
 , 
Today: Jun 19, 2013