Hj Darusna SPd, Angkat Derajat Perempuan PDF Cetak E-mail
 Dibaca: 311 kali.
Female
Ditulis oleh tya   
Kamis, 08 Maret 2012 11:51

BERAWAl dari kepeduliannya terhadap kaum perempuan, khususnya yang menjadi ibu rumah tangga, Darusna pun berpikir untuk mendirikan sebuah wadah. Wadah yang diharapkannya bisa menciptakan eksistensi para IRT sehingga bisa punya kegiatan positif, khususnya menghasilkan dan membantu perekonomian keluarga.

Di mata Nayu –begitu biasa disapa–-, tentu saja para IRT tersebut ingin melakukan sesuatu yang membantu keuangan keluarga. “Bekerja yang mampu menghasilkan pundi-pundi rupiah, hanya saja mungkin keterbatasan karena tidak memiliki keterampilan membuat mereka menjadi tidak produktif,” ujarnya ditemui baru-baru ini.

Kalaupun ada yang bekerja, lanjutnya, mereka akan mengandalkan kekuatan fisik dan tenaga. Misal, dengan bekerja menjadi buruh cuci, atau pekerja kasar lainnya. Sementara yang punya modal bisa membuka usaha kecil-kecilan seperti usaha menjual minyak bensin didepan rumah. “Padahal ada begitu banyak keterampilan yang jika ditekuni hasilnya bisa menjanjikan. Contohnya menjahit,” jelasnya, lagi.

Karena itu, berbekal kemampuan Nayu membatik dan menjahit, dia pun kemudian mendirikan lembaga kursus dan pelatihan (LPK) yang dinamakan LPK Putri Nayu pada tahun 2006. Kini, LPK yang didirikannya sudah memiliki nomor induk lembaga kursus (NILEK) dari pusat. Terdapat ada tiga pilihan program yang ditawarkannya yakni membatik, menjahit dan hantaran belanja.

“Saya memutuskan untuk membuka LPK membatik, karena memang memiliki kemampuan membatik saat masa Ibu Lily Abdurrachman Sayoeti. Ilmu yang saya dapatkan itu saya manfaatkan dengan menularkannya pada sesame agar ilmu terus berkembang dan orang lain juga memiliki ketrampilan membatik,” sambung perempuan yang dulunya adalah guru pendidikan formal tingkat SD tersebut.

Dikatakannya, pada tahun 1994 dengan keterampilan membatiknya, dia pun bermitra dengan Dispora menerima anak PPAP (Pertukaran Pelajar Antar Provinsi), muridnya datang antara lain dari Bali dan Manado.

Meski begitu, tentu tidak semua apa yang dilakukannya bisa berjalan seperti apa yang diinginkannya. Misalnya, ketika punya lulusan yang sudah dibekali keterampilan namun tetap menjadi buruh cuci. “Rasanya prihatin, padahalkan sudah memiliki keterampilan. Tetapi saya tidak dapat berbuat apa-apa yang penting keinginan saya untuk membantu dan mendorongnya sudah maksimal. Tinggal kembali kepada individunya masing-masing,” ujarnya.

Saat ini selain aktif mengelola LPK miliknya, Darusna juga tercatat sebagai pamong belajar di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kecamatan Jambi Selatan. (tya)

Mengharap Berkah

HIDUP yang dijalani tentunya penuh tantangan. Karena itu, Nayu mengatakan, dia berusaha untuk sabar dan tegar dalam menghadapi berbagai persoalan yang ada.

Diakuinya, untuk hidup lebih layak orang memang butuh uang, namun baginya uang bukan segalanya. Karena itu, rezeki seberapa besar pun yang diberikan-Nya tetap harus disyukuri.

“Dengan selalu bersyukur akan terasa nikmat dan berkah. Dan itu yang saya harapkan, keberkahan, bukan banyaknya,” bebernya.

Sebagai PNS dengan pendapatan yang tidak seberapa namun karena selalu disyukuri, Darusna mengaku mampu mencukupi kebutuhan keluarganya. Bahkan tiga anaknya sudah mandiri dan mampu membuatnya bangga dengan apa yang sudah dicapai anak-anaknya.

“Saya menekankan prinsip disiplin dan agama sebagai dasar yang kuat. Jika dua hal tersebut ditambah dengan kepercayaan diri yang mantap, maka kita bisa melepaskan anak kemanapun mereka mau. Karena mereka akan bertanggung jawab dengan apa yang mereka lakukan. Untuk agama, saya terus terang agak strength. Untuk urusan belajar ngaji saja, setiap magrib saya turun tangan mengajar sendiri,” sambung istri dari Ibnu Hajar tersebut.

Sementara itu, dalam bersosialisasi, Nayu mengaku selalu berpikir positif dan berprasangka baik kepada orang lain. “Artinya kalau ada kesalahan jangan dipermasalahkan. Yang besar diperkecil dan yang kecil dihilangkan. Itu yang saya terapkan dalam kehidupan berkeluarga, bertetangga dan dalam dunia kerja. Dengan prinsip tersebut, Insya Allah tidak akan ada kendala berarti dan hati menjadi tenang dan lapang,” akunya.