| Kalimat-kalimat Romantis Perkuat Rasa Cinta |
|
|
|
| Female |
| Ditulis oleh tya |
| Senin, 12 Maret 2012 09:42 |
|
MENDENGARKAN atau membaca rangkaian kalimat penuh ungkapan rindu dan cinta yang terucap atau terpampang di layar handphone tentunya akan membuat hati berbunga-bunga. Kerinduan yang sama menyeruak, dengan begitu hubungan dan keromantisan akan semakin terjaga. Menurut Ainal Mardhiah, salah seorang dosen Bimbingan Konseling Unja, saling mengucapkan atau berkirim pesan romantis merupakan salah satu cara yang cukup efektif untuk tetap menjaga keromantisan dan mengeratkan hubungan suami istri. “Biasanya yang suka mengatakan atau berkirim pesan cinta itu kaum perempuan atau istri,” paparnya. Mungkin, lanjutnya, karena intuisi perempuan lebih kepada perasaan dan suka mengungkapkan perasaan melalui kata-kata yang sedemikian rupa. Kalau lelaki, terutama yang sudah menikah sekian tahun, biasanya jarang sekali telaten dengan hal-hal yang dianggap sepele tersebut, kata Mardhiah. Kendati begitu, suami yang menerima kalimat atau pesan cinta bukan tidak senang. “Hanya saja mereka tidak bisa mengungkapkan dengan hal yang sama. Terlebih jika memang mereka tergolong lelaki yang tidak bisa romantis lewat kalimat puitis,” sambungnya. Kalimat atau pesan cinta tersebut, menurut Mardhiah, bisa berisi ungkapan rindu, puisi-puisi cinta atau kalimat rayuan yang mengundang. “Lebih efektif lagi bagi pasangan yang berjauhan. Misalnya sang suami bekerja di luar kota, membaca ungkapan rindu, permintaan sang istri yang meminta sang suami untuk segera pulang yang dirangkai dalam kata-kata romantis akan membuat sang suami tak sabar menunggu akhir minggu untuk segera pulang ke pelukan istri tercinta,” sambungnya, lagi. Tetapi bukan berarti yang tinggal serumah tidak bisa saling berkirim pesan romantis. “Hanya intensitasnya saja yang pelu dikurangi. Atau misalnya sedang ada momen-momen khusus, misalnya anniversary (hari jadi) perkawinan, habis berantem, atau momen-momen istimewa lainnya. Kalau terlalu sering berkirim pesan romantis padahal tinggal serumah, kesannya akan basi dan berlebihan. Yang membaca juga akan jadi bosan dan malah bisa jadi ilfil,” tandas Mardhiah. (tya) Sebagai Penyemangat ENAM tahun menikah, Nissa (30) mengaku keromantisannya dengan sang suami yang tinggal terpisah di luar kota tetap terbina mesra. Hal ini, menurutnya, tak terlepas dari usaha keduanya untuk menjaga keutuhan rumah tangga terlebih dengan adanya jarak yang memisahkan. “Salah satu cara yang saya lakukan adalah dengan mengungkapkan dan berkirim pesan cinta. Ada-ada saja yang saya kirimkan, mulai dari mengungkapkan perasaan rindu, apa yang saya rasa dan inginkan pada malam-malam sepi tanpanya disisi saya, atau sekadar rajukan memintanya segera pulang. Suami biasanya langsung meresponnya dengan membalas pesan singkat mengatakan, meminta saya untuk sabar atau kalau dia sudah terlewat terharu dengan pesan cinta saya, dia akan menelpon,” ungkap ibu satu anak tersebut. Saat sudah saling mendengarkan suara via handphone tersebut, maka akan mengalir cerita-cerita indah yang pernah tercipta semasa awal kedekatan atau awal-awal pernikahan yang penuh kenangan. “Jadi makin cinta kala sudah mengingat masa-masa awal pacaran dan menikah itu,” imbuh Nissa. Meski tak rutin setiap hari mengirim pesan cinta, minimal tiga hari sekali Nissa tetap berkirim pesan cinta untuk suami tercinta. “Memang lebih sering saya yang memulai berkirim pesan, karena suami memang tidak bisa dengan yang begitu-begituan,” kekehnya. Lain lagi dengan Afifah (29). Tuntutan pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkannya lama-lama membuatnya tak bisa mendampingi setiap saat sang suami yang sedang tergeletak sakit. “Untuk tetap membuatnya merasa diperhatikan dan dekat dengan saya adalah dengan mengirimkan pesan-pesan cinta yang mampu men-support-nya untuk cepat sembuh. Saya katakana, apapun adanya dia saya tetap mencintainya dan menerimanya dengan hati terbuka. Tak ada yang berubah dengan cinta saya kepadanya,” ujarnya. Mengungkapkan pesan cinta tersebut, diyakini Afifah, sebagai salah satu cara yang dapat mempercepat proses kesembuhan sang suami. “Ini juga sebagai bentuk rasa bersalah saya karena hanya pagi dan sore hingga malam hari baru bisa menjaga dan merawatnya. Siang saya harus mencari nafkah dengan bekerja. Dengan mengirim pesan cinta, suami saya harapkan akan tetap merasakan kehangatan dan kedalaman cinta saya kepadanya,” imbuhnya. |