BBM Naik, Tak Perlu Panik PDF Cetak E-mail
Opini
Ditulis oleh Brigjen Pol Anang Iskandar*   
Senin, 19 Maret 2012 10:46

Rencana kenaikan harga BBM dalam waktu dekat ini memang menimbulkan banyak reaksi di masyarakat. Ada yang resah, panik, takut dan cemas tak kebagian BBM begitu harga naik. Kami, aparat penegak hukum jadi serba salah mau berbuat dalam situasi seperti ini. Di satu sisi, kami harus menegakkan aturan, di sisi lain kami juga bakal kena imbasnya karena kami, tentu saja, termasuk golongan masyarakat yang mengonsumsi BBM. Otomatis, kami juga resah, panik, takut dan cemas dengan rencana kenaikan harga BBM ini.

Sekadar untuk dipahami, sejak adanya rencana kenaikan harga BBM, kami mulai mencari tahu lebih banyak informasi soal ketersediaan BBM di Jambi, distribusi BBM, dampak ekonomis bagi masyarakat, penyebab harga naik dan tingkat keamanan bagi masyarakat. Semua kami lakukan dengan berbagai rasa yang berkecamuk di dada. Seperti inilah, di satu sisi kami polisi, di sisi lain kami juga masyarakat yang otomatis konsumen BBM. Jadilah kami mencari tahu semua itu untuk saya, kami dan kita semua.

Syukurlah kami mendapat jawaban yang menenangkan. Pertama, dari ketersediaan BBM. Menurut pengakuan Pertamina Jambi, stok BBM cukup jelang dan sampai kenaikan harga di bulan April. Posisi stok premium sebanyak 5.541 KL, solar 7.725 KL dengan rata-rata ketahanan selama di atas empat hari. Selain itu, Pertamina juga telah menyiapkan langkah-langkah antisipasi mulai dari penyiapan DO/setoran lebih dari biasanya sampai koordinasi pengamanan distribusi.

Lalu, ada pula penambahan armada distribusi dari 42 unit menjadi 50 Unit. Ini menunjukkan betapa serius Pertamina dalam mengantisipasi kelangkaan BBM di Provinsi Jambi. Kesimpulannya, stok BBM kita cukup. Semoga Pertamina benar-benar menjalankan semua rencana antisipasi mereka.

Satu langkah telah dibuat. Setidaknya BBM kita cukup jelang dan usai 1 April 2012. Betapa tak perlunya kita khawatir dan panik berlebihan atas kenaikan harga BBM ini. Toh, kenaikan semacam ini sudah berlangsung sejak beberapa tahun belakangan, bukan hal baru bagi kita. Selama ini, bukankah kita sudah cukup pintar beradaptasi? Masih menjalankan kehidupan seperti sewajarnya walau dengan harga BBM naik sekalipun?

Mungkin, yang paling besar kena pengaruh kenaikan harga BBM adalah keluarga kita yang kurang mampu. Tapi, pemerintah telah terang-terangan membuat langkah antisipasi dengan berbagai bentuk kompensasi. Mulai dari bantuan semacam BLT sampai subsidi transportasi bagi masyarakat miskin. Itu artinya, subsidi pemerintah tetap. Dari semula mensubsidi BBM seharga Rp 4.500 menjadi Rp 6.000. Bahkan pemerintah mensubsidi masyarakatnya lewat progam langsung yang menyentuh garis masyarakat terfokus.

Apalagi kenaikan harga BBM telah rasional dengan APBN RI. Jika harga BBM tak naik, maka subsidi pemerintah membengkak. Ujung-ujungnya, negara terancam kebangkrutan akibat kerugian yang sangat besar untuk membayar subsidi BBM. Nah, pertanyaannya, jika negara bangkrut, siapa yang rugi? Tentunya kita-kita juga, kan?

Gerakan Anti Penimbunan

Setelah stok BBM cukup, kompensasi pemerintah ada, hal lain yang perlu diwaspadai adalah penimbunan. Inilah wilayah kewenangan Polri dan TNI. Sejak adanya rencana kenaikan harga BBM, kami, jajaran Polda Jambi bekerjasama dengan jajaran Korem 042/Gapu, bahu membahu mengantisipasi berbagai kecurangan dalam pendistribusian BBM bersubsidi ke masyarakat.

Kasus-kasus penimbunan BBM sudah banyak yang ditindak jajaran Polri sejak beberapa pekan terakhir. Modusnya macam-macam, polanya beragam, pelaku berbagai jenis golongan masyarakat, tapi, tetap saja terpantau oleh jajaran TNI/Polri. Jadi, jangan sampai ada penimbunan BBM lagi di provinsi ini kalau tidak  mau berurusan dengan aparat hukum.

Tapi masalah unik muncul pada situasi panik semacam ini. Ya, ternyata, kelangkaan BBM lebih banyak disebabkan masyarakat itu sendiri. Bisa diperhatikan betapa panjang antrean di SPBU-SPBU baik di Kota Jambi maupun kota kabupaten lain dalam Provinsi Jambi saat ini. Masyarakat yang antre itu rata-rata takut tak kebagian, mereka bahkan ada yang diam-diam menimbun BBM di rumah masing-masing dengan alasan untuk konsumsi diri sendiri. Memang tidak banyak, tapi jika banyak yang melakukan itu, akhirnya mempengaruhi stok BBM di seluruh Jambi.

Masyarakat panik, takut tak kebagian jatah BBM, ya, itulah penyebabnya. Bahkan walau tangki kendaraannya masih terisi separo, masyarakat buru-buru membeli minyak lagi di SPBU. Padahal, di hari-hari biasa, kita membeli minyak cenderung ketika isi tangki mulai mendekati garis merah. Benarkan? Lalu, dengan mengisi tangki yang separuh itu sampai penuh, apa menyelesaikan masalah? Tidak kan? Toh pada akhirnya akan habis juga, lalu kita terpaksa mengisi lagi. Pihak Pertamina mengistilahkan situasi ini dengan sebutan panic buying. Pembelian yang berlebihan oleh masyarakat karena takut tak kebagian jatah BBM.

Pengamanan Ketat

Jajaran Polda Jambi telah membuat langkah-langkah pengamanan demi mengantisipasi kenaikan harga BBM. Setidaknya ada beberapa langkah utama. Dimulai dari operasi rutin bekerjasama dengan TNI, sampai diskusi-diskusi persuasif dengan masyarakat lewat forum diskusi yang memang sudah berjalan sejak awal tahun ini.  

Danrem 042/Garuda Putih Jambi Kolonel Kav Hasto PR Yuwono mengungkap sikap tegasnya dalam mengamankan semua kebijakan pemerintah RI. Jajaran Korem telah merapatkan barisan anggotanya untuk bersinergi dengan semua jajaran pemerintah daerah termasuk Polri.

Saat ini, jajarannya, dari mulai kodim, koramil, selalu dekat dengan polsek di setiap wilayahnya. Kerja sama dijalin erat demi menciptakan suasana kondusif di tengah masyarakat. Untuk itu, Danrem memerintahkan jajaran korem di lima wilayah di Provinsi Jambi untuk siap siaga mem-backup Polri jika sewaktu-waktu dibutuhkan.

Danrem bahkan menyarankan semua pihak bersikap arif dan bijaksana serta ikhlas karena semua itu sudah dikaji dan diperhitungkan pemerintah dengan masak. Ini bukan untuk menyengsartakan masyarakat, tapi justru menyelamatkan perekonomian bangsa. Ya, demi kepentingan bangsa. Siapa itu? Tentunya saya, kami, dan kita semua.

Beliau juga berharap, semua pihak memahami tugas pokok masing-masing dengan baik dan benar. Karena baik saja tidak cukup, harus dikerjakan dengan benar, agar di Jambi ini kondisinya tetap kondusif.

Pemerintah menyiapkan kompensasi, aparat hukum menyiapkan rasa aman di masyarakat, lalu diharap ada peran yang sangat besar dari diri kita masing-masing, yaitu, kurangi rasa panik. Bahkan, tak perlu panik jika harga BBM benar-benar naik, karena kita semua telah terbiasa dan bisa menyesuaikan diri.  

Mau Tak Mau Harus Naik

H Bakrie, anggota DPR RI daerah pemilihan Provinsi Jambi, Kamis (15/3) lalu, menyampaikan pendapatnya betapa penting harga BBM harus naik. Dia menilai, kenaikan harga BBM sudah rasional bagi APBN dan semua pihak. Apalagi perbandingan harga minyak dunia sangat jauh dibanding harga minyak di Indonesia. “Negara kita ini harga minyaknya paling murah dibanding negara lain,” ungkap Bakrie.

Rencana kenaikan harga BBM ini, sampai sekarang masih dibahas alot oleh DPR RI dengan Pemerintah RI. Walau belum final, tampaknya kenaikan harga tak bisa lagi dielak. APBN perlu diselamatkan agar negara tidak bangkrut akibat anggaran yang terlalu besar bagi kepentingan subsidi minyak.

Makanya, bersamaan kenaikan harga BBM, pemerintah dengan cepat merancang antisipasi dengan menggelontorkan beragam program kerakyatan. Dimulai dari subsidi bagi siswa miskin sampai subsidi transportasi bagi rakyat miskin. Nilai anggaran semua langkah antisipasi itu belum ditetapkan. Tetapi, baik Menteri Perekonomian maupun Menteri ESDM, sekarang sedang getol-getolnya merancang anggaran itu.

Beban anggaran di APBN yang selama ini membengkak untuk subsidi BBM, kini bisa dimanfaatkan untuk kepentingan berbagai kalangan. Terutama masyarakat miskin dan kurang mampu. Inilah yang menjadi pertimbangan pemerintah menaikkan harga BBM. Harga BBM mau tidak mau harus naik.

*)Kapolda Jambi