| Ir Nita Yudi MBA, Tekad Jadikan Perempuan Pengusaha |
|
|
|
| Female |
| Ditulis oleh rey |
| Selasa, 27 Maret 2012 12:59 |
|
PEKERJAAN sang bunda yang berbisnis tertanam kuat di hatinya, sehingga perempuan yang dikenal dengan nama “Nita Yudi” itu sejak kecil telah bercita-cita untuk jadi seorang pengusaha. “Saat itu ibu saya punya salon dan sekolah kecantikan. Saya turut bantu-bantu di sana hingga akhirnya suatu saat saya medapat job yang sesuai dengan keahlian saya sebagai mahasiswa landscape architecture, yakni mendesain sebuah taman rumah. Saat itu yang menjadi klien saya adalah seorang artis. “Maklumlah kalau menggunakan tenaga mahasiswa kan biayanya lebih murah,” terang perempuan yang dipercaya menjadi ketua Iwapi (Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia) pusat tersebut sambil tertawa kecil. Tidak berhenti sampai di situ, ibu dari Dita Atikah Yudi (13 tahun) dan Dini Meilina Yudi (10 Tahun) juga mengisi masa akhir kuliahnya dengan membuat tas dengan segala pernak-perniknya. Ia memilih bahan-bahan yang eyecatching sehingga banyak teman yang tertarik. Namun usaha yang berbasis hobi ini tidak ia tekuni, karena Nita-sapaan akrabnya-- lebih fokus ke bisnis landscaping. Selepas pendidikan S-1, bersama sang suami, Prof Dr Ir H Yudy Yulius MBA yang berprofesi sebagai arsitek, keduanya lalu mendirikan perusahaan konsultan dan kontraktor, yang mereka beri nama PT Arscipta Bangun Persada. “Beberapa gedung yang berhasil kami bangun di antaranya, Gedung Iwapi (Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia) di Kalipasir dan Gedung STIE YAI di Kramat Raya. Selain itu, perumahan di Pantai Indah Kapuk,” ucap Nita yang saat ini juga dipercaya sebagai wakil Komtap hubungan Bilateral KADIN Indonesia ini. Meski sibuk menjalankan usaha, pemilik Yayasan Administrasi Indonesia AA YAI, STIE YAI dan UPI YAI ini tetap menyempatkan diri untuk mengajar. Mata kuliah yang diajarkannya adalah lingkungan hidup di STIE YAI. Di tengah kesibukannya, Nita masih bisa menyempatkan waktunya untuk melanjutkan studinya ke jenjang S-2 di Oklahoma City University USA Amerika, jurusan Magister of Business Administration, Major in Marketing Management yang menjadi pilihannya. Ketika mengambil studi pasca sarjana tersebut, diakui Nita, bisnisnya sempat vakum. Namun sepulang dari Amerika, di kembali merintis bisnisnya dan mengajar mata kuliah marketing management di S-2 YAI. Sejumlah bisnis yang coba ditekuninya saat itu adalah Production House namun usaha tersebut, diakuinya kurang berjalan. Nita dan suami pun kemudian beralih ke bisnis kontraktor yang fokus menangani pembangunan perumahan, juga beberapa bisnis lain yang bergerak dibidang pendidikan, cleaning service dan percetakan Kini, kata Nita, apa yang selama ini ingin dicapainya semakin terbuka lebar yakni memberdayakan perempuan Indonesia lebih baik, terlebih dengan kepercayaan yang diberikan sebagai ketua Iwapi pusat. Nita yakin bahwa perempuan bisa lebih bermanfaat tidak seperti budaya patriatik yang menganggap perempuan itu hanya di kasur, sumur dan dapur. Baginya perempuan Indonesia juga bisa melakukan apapun termasuk berusaha dan menjadi pengusaha. Tidak perlu langsung terjun ke usaha besar namun bagi Nita yang terpenting adalah ada tahapannya dari usaha rumah tangga ke usaha mikro, kecil, menengah lalu usaha besar. Bahkan ditegaskan Nita, perempuan bisa lebih baik menjadi pengusaha sebab sifat naluriahnya yang teliti, ulet, tekun dan juga loyal. Bahkan untuk kecenderungan korupsi pun lebih minim sebab dalam bertindak tidak hanya menggunakan logika atau otaknya tetapi juga hati, kata Nita. “Namun tetap saja dalam meniti sesuatu itu selalu ada batu penghalang namun bagi saya yang terpenting itu adalah bagaimana membangun kepercayaan diri bahwa kita itu sebagai perempuan juga bisa. Kita lebih bisa dan lebih berani. Itulah PR utama saya di Iwapi, membangun serta memotivasi perempuan Indonesia untuk mau berusaha menjadi pengusaha,” pungkasnya. Di Rumah, Tetap Jadi Istri dan Ibu SESIBUKNYA Nita mengurus perusahaannya, namun diakuinya, saat kembali ke rumah, dia tetaplah seorang istri dan ibu. Baginya itulah yang menjadi tujuan utamanya yakni menomorsatukan keluarga. “Kuncinya hanya komunikasi. Bagi seorang perempuan yang terpenting adalah dukungan dan restu suami juga anak-anak. Dengan demikian, usaha yang dijalani akan berjalan lebih lancar dan lebih optimis dalam melangkah,” terangnya. Walau jadwal hariannya cukup padat, namun bagi Nita, akhir pekan adalah waktu khusus untuk keluarga. Saat itu, katanya, dia bisa bebas menjadi dirinya sendiri, yakni ibu dan istri yang baik untuk keluarganya. Walau diakuinya, terkadang waktu itu pun terambil untuk beberapa jadwalnya di daerah namun sedapat mungkin Nita tetap meluangkan waktu untuk keluarga. Dia pun kemudian memboyong anak dan suaminya ketika harus berakhir pekan di luar daerah. “Jika jadwal tersebut tidak bisa berubah, saya pasti ajak anak-anak dan suami juga turut serta. Jadi bisa tetap bersama keluarga walaupun harus bekerja diakhir pekan. Sebab bagi saya, sehebat-hebat apapun perempuan saat di luar baik menjadi pengusaha atau pemimpin, setibanya di rumah, dia hanyalah seorang istri dan ibu yang harus menomorsatukan keluarganya,” tegas Nita.(rey) Kepincut Kuliner dan Batik Jambi ADA perubahan mengejutkan yang terjadi di Jambi, komentar Nita. Diakuinya, pertama kali ke Jambi pada tahun 2005, kondisi Jambi tidak seperti saat ini. Kini, tahun 2012 ketika dia datang kembali, ada banyak perubahan yang dirasakan. “Perkembangan pembangunannya sangat cepat dan saya tidak bosan kembali kesini. Kata rekan-rekan, karena saya sudah meminum air Sungai Batanghari,” ungkapnya lalu tertawa. Satu hal yang diancungkan jempol oleh Nita yaitu kuliner Jambi yang terasa sangat memanjakan lidah perempuan yang juga dipercaya sebagai ketua Wanita Indonesia Tanpa Tembakau (WITT) pusat tersebut. Disebutkannya, dua kuliner yang membuatnya tergila-gila yaitu pindang patin dan pempek. Bahkan baginya, pempek Jambi jauh lebih enak dibandingkan pempek Palembang. Tidak hanya itu, beberapa kali ke Jambi juga membuat Nita banya mengoleksi barang khas Jambi. Salah satunya adalah batik Jambi. “Pokoknya soal kuliner top, soal batik juga saya sangat suka,” pungkasnya. |