| Ratusan Umat Rayakan Puncak Waisak |
|
|
|
| Sosial |
| Ditulis oleh viz |
| Senin, 30 April 2012 11:02 |
|
JAMBI - Ratusan umat Buddha merayakan puncak Tri Suci Waisak 2556 BE di kompleks percandian Muarojambi, kemarin (29/4). Ini merupakan kegiatan rutin perayaan Waisak setiap tahunnya, di kawasan candi. Candi merupakan salah satu tempat suci bagi umat Buddha, sehingga mereka merayakan ritual Waisak di tempat bersejarah tersebut. Rombongan berkumpul di Vihara Sakyakirti sejak pukul 07.00, dan berangkat sekitar pukul 08.00. Ada sekitar 24 bus dan plus puluhan kendaraan pribadi yang ikut serta. Tidak hanya remaja dan orang tua yang ikut, anak-anak juga ikut serta pada perayaan kali ini. Ini merupakan wujud dari kebersamaan dalam merayakan hari suci bagi umat Buddha tersebut. “Kita selalu rutin merayakan Waisak di Candi Muarojambi. Selain ini merupakan salah satu tempat suci bagi umat Buddha, juga untuk memperkenalkan kompleks candi ini ke seluruh masyarakat Indonesia agar lebih dikenal sehingga mampu menjadi warisan Budaya dunia,” kata Tedyanto The, ketua panitia. Menurut Bhikkuni Girisanti, Waisak merupakan salah satu hari besar bagi umat Buddha sehingga harus dirayakan dengan penuh kekhusukan. Ritual Waisak di Candi Muarojambi salah satu cara menghormati hari besar tersebut. “Puncak Waisak merupakan momen di mana umat Buddha harus mengingat kembali sejarah saat sang Buddha mencapai penerangan sempurna,” katanya. Tiba di candi, umat terlebih dahulu berbaris. Mereka membawa beberapa jenis bendera. Lalu mengikuti para Bhikku yang memimpin ritual. Pertama, digelar ritual Pradaksina. Ini merupakan ritual menghormati benda yang dianggap suci dengan cara mengelilinginya beberapa kali. Candi Gumpung dan Candi Tinggi dikelilingi hanya satu kali sambil membaca doa. “Khusus pada ritual Waisak, candi hanya dikelilingi satu kali mengingat besarnya ukuran candi dan banyaknya umat yang hadir,” tambah Tedyanto The. Dilanjutkan dengan doa bersama, meditasi dan pemaparan Dhamma Waisak oleh Bhikkhu Sangha di depan candi. Tahun ini, Waisak mengambil tema “Genta Waisak Melantunkan Semangat Mawas Diri dan Hidup Harmonis”. “Agar kita mampu mawas diri sehingga menjadi manusia yang lebih baik lagi. Menyadari akan kesalahan dan mengambil hikmah dari setiap kejadian untuk direnungkan dan dipelajari,” tambah Balamitha, Ketua Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) Jambi. |








![]() | Online Hari ini | 7766 |
![]() | Online Minggu ini | 44885 |
![]() | Online Bulan ini | 164268 |