| 3.288 Siswa SD Tak Bisa Baca Alquran |
|
|
|
| Jambi Timur |
| Ditulis oleh iis/aki |
| Rabu, 16 Mei 2012 11:13 |
|
BUPATI Muarojambi Burhanuddin Mahir menyatakan, jika saat ini terdapat ribuan siswa sekolah dasar (SD) tak bisa membaca Alquran. Hal ini berdasarkan data dari Pemerintah Provinsi Jambi, dari jumlah murid SD usia enam hingga 12 tahun, berjumlah sekitar 3.288 orang. “Inilah jumlah siswa SD yang tak bisa membaca Alquran,” sebutnya, kemarin (15/5). Diakuinya, data tersebut diperoleh pada saat dirinya menghadiri pembukaan MTQ tingkat Provinsi Jambi di Kabupaten Merangin. Dirinya sangat miris mendapatkan laporan jika siswa di daerahnya justru tak bisa membaca Alquran. “Pada pembukaan MTQ itu, kami, semua bupati termasuk saya dipanggil pak gubernur dan kami diserahkan daftar nama tersebut,” sebutnya. Tak hanya jumlah saja, data yang diterimanya tersebut lengkap semua dengan nama siswa dan alamat serta sekolahnya. Tercatat, untuk Kecamatan Sungaigelam yang paling banyak, yaitu berjumlah 900-an orang, lalu Kecamatan Marosebo sebanyak 290 orang, Taman Rajo sebanyak 299 orang, Kecamatan Bahar Utara 277 orang, Sekernan 97 orang, Mestong 32 orang dan yang paling kecil Kecamatan Jaluko, sebanyak 22 orang. “Kita punya guru madin, guru ngaji yang kita beri intensif. Kalau masih banyak juga yang buta aksara Alquran apa gunanya pemberian intensif tersebut,” cetus bupati. Terkait hal itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Muarojambi Nazman mengatakan, kalau pihaknya membenarkan data tersebut. “Kita tidak boleh bohong memang data tersebut benar,” akunya. Nazman mengatakan, jika pihaknya tidak bisa berbuat banyak untuk mengatasi buta aksara Alquran tersebut. “Dinas pendidikan ini sifatnya formal. Artinya, harus dijelaskan siapa yang bertanggung jawab, apakah Kemenag atau bagian sosial. Yang jelas kita akan melakukan pembahasan,” ungkapnya. Di tempat terpisah, Kabupaten Tanjungjabung Timur (Tanjabtim) berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) terdata 7,5 persen anak usia 10 tahun ke atas masih buta aksara. Data ini disampaikan Refia Hendrita, Kepala BPS Tanjabtim. Dijelaskan, pada tahun 2010 jumlah penduduk yang tidak bisa baca tulis sebanyak 12.408 atau 7,5 persen dari jumlah anak 10 ke atas atau diusia sekolah di Kabupaten Tanjabtim. Dengan perincian laki-laki 4.550 atau 5,4 persen, perempuan 7.858 atau 9,8 persen. Angka buta aksara di wilayah Tanjabtim ini, yang merupakan data pada tahun 2010 merupakan yang tertinggi di Provinsi Jambi. “Kita mengambil sampel terhadap anak usia sekolah,” terangnya. Jumlah anak buta aksara ini yang terdata pada tahun 2010 itu mengalami penurunan atau pengurangan. Yang mana pada data tahun 2009, jumlahnya lebih banyak, yakni sebesar 13.934 dengan perincian 9.407 perempuan dan 4.527 laki laki. “Ini semua merupakan data tahun 2009 dan 2010. Kalau untuk tahun 2011, kita belum bisa publikasikan karena masih dirangkum di provinsi,” katanya. Penyebab masih tingginya anak usia sekolah yang buta aksara, menurut Refia, disebabkan oleh faktor wilayah. Yang mana, anak-anak dengan usia sekolah ini terhalang oleh medan (akses jalan menuju sekolah) yang jauh dan sulit untuk dilalui. “Rata-rata, penderita buta aksara ini adalah anak-anak yang tinggal di pelosok,” bebernya. Sementara itu, untuk yang melek huruf atau mengerti baca pada usia 15 tahun ke atas, berdasarkan data pada tahun 2009-2010 sebesar 92,42 persen. Dimana pada tahun 2010-2011 jumlah meningkat sebesar 0,1 persen atau menjadi 92,43 persen. “Dan untuk data melek huruf ini, pada tingkat provinsi merupakan kebalikan dari peringkat buta aksara, yakni merupakan yang terkecil,” pungkasnya. |