| Uang Jambi Banyak Dibelanjakan ke Luar Provinsi |
|
|
|
| Ekonomi & Bisnis |
| Ditulis oleh nid |
| Kamis, 26 Juli 2012 11:57 |
|
JAMBI - Perputaran uang di Jambi masih rendah. Indikasi ini setidaknya terlihat dari sebagian besar uang yang dihasilkan di Jambi ternyata dibelanjakan di luar provinsi. Banyak kebutuhan yang tidak bisa diproduksi sendiri menyebabkan pengusaha memilih keluar. Apalagi, Jambi memang minim industri. Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jambi yang membawahi sistem pembayaran, Dede Suprayitno mengatakan, untuk Jambi, pihaknya lebih banyak outflow dibandingkan dengan inflow. Berbeda dengan di Pulau Jawa. “Kalau di Jawa bisa banyak inflow-nya dibandingkan dari outflow-nya,” katanya saat ditemui usai press conference di BI, kemarin (25/7). Sebagai contoh, rata-rata BI mengeluarkan uang (outflow) untuk kebutuhan Jambi sekitar Rp 400- Rp 500 miliar per bulannya. Biasanya yang masuk kembali hanya 10 persennya. “Sementara sisanya keluar,” katanya. Kondisi ini terjadi, karena kebanyakan uang dibelanjakan ke luar Jambi, baik ke pulau Jawa maupun provinsi tetangga yang menjadi pusat ekonomi. Lalu, bagaimana perputaran uang di Jambi? Deputi Direktur Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi Jambi Kahfi Zulkarnain mengatakan, untuk ukuran lokal di Jambi tidak bisa dipantau. “Kalau skala nasional bisa. Karena uang dari Padang, Palembang yang masuk tidak bisa terpantau. Begitu juga sebaliknya,” jelasnya. Yang jelas untuk momen Ramadan dan Lebaran, mengantisipasi kebutuan uang terkait meningkatnya transaksi untuk pembayaran, Bank Indonesia (BI) Jambi akan menggelontorkan uang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sebanyak Rp 1,7 triliun. Rinciannya, Rp 1,6 triliun didistribusikan ke bank untuk memenuhi kebutuhan transaksi, dan sisanya untuk penukaran uang pecahan kecil. Jumlah ini, menurut Kahfi, meningkat 13,33 persen dari realisasi outflow periode Ramadan dan Idul Fitri tahun sebelumnya. “Tahun lalu Rp 1,5 triliun,” katanya saat press conference BI yang didampingi sejumlah pimpinan perbankan di Jambi. Menurut Kahfi, di bulan biasa, BI Jambi hanya mengeluarkan sepertiganya saja, yakni antara Rp 400- Rp 500 miliar. Sementara pada bulan Ramadan dan jelang Lebaran, kebutuhan meningkat drastis. Kenaikannya tiga kali lipat dari bulan biasa. “Karena untuk membeli kebutuhan lebaran, perusahaan akan membayar THR dan sebagainya,” katanya. Sementara itu, Pengamat Ekonomi Jambi Emilia Hamzah mengatakan, ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan uang Jambi banyak beredar ke luar. Karena itu, perlu dikelompokkan belanja tersebut dalam bentuk barang dan jasa. Untuk barang bisa dibagi ke dalam barang konsumsi siap pakai. “Untuk yang ini biasanya ada yang dipakai untuk sendiri maupun dijual kembali,” katanya saat dihubungi melalui telepon selulernya, kemarin. Belanja lainnya untuk pembelian bahan baku atau barang setengah jadi. Termasuk material bangunan dan bahan baku industri. “Biasanya untuk kegiatan produksi di Jambi,” katanya. Selanjutnya, uang yang dibelanjakan sebagai jasa pariwisata maupun untuk pendidikan. Yang memang banyak disediakan di luar Jambi. “Misalnya, orang tua mengirimkan uang kepada anaknya untuk biaya hidup karena sedang kuliah, biaya pendidikan. Atau sedang berlibur di luar Jambi,” jelasnya. Dia menilai, data 90 persen uang Jambi banyak dibelanjakan di luar ini sangat mungkin. Mengingat sebagian barang modal, barang konsumsi, jasa pariwisatan dan pendidikan lebih banyak disediakan di luar Jambi. Lalu, apakah ada dampaknya bagi Jambi sendiri? Menurut Emilia, jika untuk barang konsumsi, tentu nilai tambah yang didapatkan rendah. Karena hanya kebagian gaji karyawan saja. Namun ini mendorong sektor perdagangan. Jika industri, tentu nilai tambahnya lebih besar. Jika dibelikan barang modal ataupun untuk kebutuhan produksi di Jambi, ini juga menunjukkan aktivitas pembangunan di Jambi meningkat. Jika tujuannya untuk pembangunan, juga tidak masalah. “Selagi uang tersebut sebagian besar masuk lagi ke Jambi dalam bentuk barang dagangan dan bahan baku aktivitas produksi di Jambi. Karena di Jambi memang belum mampu menyediakannya,” ucapnya. Terkait kondisi ini, dia menyarankan pemerintah daerah mendorong dan menfasilitasi barang dan jasa yang bisa dan efesien di produksi di Jambi. Sehingga bisa berdampak pada penciptaan dan penyerapan tenaga kerja, serta peningkatan nilai tambah yang diterima daerah. Hal senada juga disampaikan Pengamat Ekonomi dari Unja Syamsuddin HM. Menurut dia, jika uang tersebut dibelanjakan untuk barang modal, maka tetap berdampak positif bagi Jambi. “Yang bermasalah jika pengusaha mengolah SDA Jambi seperti batu bara, lalu uangnya keluar saja dari Jambi dan tidak balik lagi, baik sebagai barang modal maupun yang lainnya,” katanya saat dihubungi, kemarin. Menurut pandangannya, larinya uang Jambi ke daerah lain karena sebagian besar barang modal tidak diproduksi di Jambi. Sebagai contoh, semua bahan bangunan dipasok dari luar, seperti semen dan lainnya. “Termasuk aspal, mesin dan barang modal lainnya,” katanya. Makanya, dia menilai wajar saja jika kemudian yang dibelanjakan ke luar Jambi lebih banyak. “Misalnya beli pakaian, orang beli juga di Jakarta baru kemudian dijual di Jambi. Tidak ada industrnya di sini,” katanya. Apalagi, Jambi bukan provinsi yang memiliki banyak industri. Kalaupun ada industri, itu bukan untuk konsumsi di Jambi. Sehingga hasil dari industri ini lebih banyak digunakan untuk pembiayaan tenaga kerja. “Sisanya tentu lebih banyak ke luar,” pungkasnya.
|