Waspadai 20 Titik Rawan Longsor PDF Cetak E-mail
Hukum & Kriminal
Ditulis oleh (rib/jpnn)   
Kamis, 16 Agustus 2012 13:49

JAMBI – Para pemudik diimbau berhati-hati dalam perjalanan. Dinas Pekerjaan Umum (PU) Provinsi Jambi merilis, sedikitnya ada 20 titik rawan longsor tersebar di ruas jalan Provinsi Jambi dan jalan nasional dalam Provinsi Jambi. Selain itu juga ada empat lokasi letter W (tikungan tajam), dan tiga lokasi rawan banjir.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Provinsi Jambi Ivan Wirata mengatakan, pihaknya telah mendesentrelisasikan lokasi rawan longsor, lokasi rawan banjir dan lokasi letter W yang tersebar di kabupaten/kota. Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, Dinas PU sudah menyiapkan 41 alat berat di lokasi-lokasi rawan tersebut.

Menurut dia, lokasi rawan longsor tersebut di antaranya, di daerah ruas Jalan Sungai Penuh - Tapan terdapat tiga lokasi rawan longsor dan satu letter W. Lalu, di Sanggaran Agung - Sungai Rengas dua titik lokasi rawan longsor, dan Jangkat - Sungai Rengas lima titik rawan longsor.

“Kalau di Jangkat, kontraktor kita lengkap. Mereka sudah siaga di sana jika ada masalah,” kata Ivan, kemarin (15/8). Kemudian, di KM 459,90, ada satu titik rawan longsor. Selain itu, di daerah Muara Talang - Batang Asai terdapat empat lokasi rawan longsor dan satu titik letter W.

Di Kabupaten Tebo hingga Sungai Bengkal, ada dua lokasi rawan longsor. Dari Sungai Bengkal hingga Muara Tembesi satu lokasi rawan longsor. “Sedangkan di Simpang Lagan juga ada satu lokasi rawan longsor,” kata Ivan.

Sedangkan lokasi rawan banjir, di daerah Batang Asai menuju Simpang Pelawan, dari Mandi Angin hingga Muara Tembesi, dan daerah Suak Kandis. “Kita sudah menentukan titik-titik, dan kita telah memberikan informasi nomor handphone petugas di lapangan. Kalau ada informasi langsung dihubungi,”  katanya.

Dia melanjutkan, PU juga telah membuat tim terpadu atau tim koordinasi untuk mengatasi jika ada masalah yang terjadi saat Lebaran. Dinas PU membuat posko, baik di jalan nasional maupun di jalan provinsi. Menurut Ivan, PU menyiapkan 41 alat berat yang siaga di jalan provinsi maupun di jalan nasional. Tiga alat telah disediakan di bagian barat. “Kapan pun ada masalah, PU langsung bisa turun ke lapangan,” ujarnya.

Menurutnya, semua ini merupakan kerja sama Dinas PU dengan kontraktor-kontraktor yang kontraknya masih berjalan. Sedangkan yang tidak mempunyai kontrak, PU juga telah menyediakan anggaran swakelola. Mereka telah disiapkan di Alkal Jambi maupun di daerah Sarolangun.

Tidak hanya itu, PU juga telah memerintahkan 30 orang mandor jalan untuk memantau jalan selama lebaran. Mereka diberikan kendaraan serta peralatan untuk memantau jalan. “Satu mandor tugasnya mengawasi 20 kilometer jalan,” ujarnya.

Ivan mengatakan, untuk pengawasan jalan provinsi sebenarnya dibutuhkan 70 mandor. Sayangnya, tahun ini mandor yang ada baru 30 orang.

Sniper Tak Perlu Dikerahkan

Di bagian lain, pengamanan arus mudik Lebaran selalu identik dengan penempatan ribuan personel polisi di jalan raya. Biasanya, masing-masing Polda akan mengerahkan penembak-penembak jitu atau sniper untuk shock therapy bagi penjahat. Hal ini dinilai kontraproduktif.

‘’Terus terang itu tidak masuk akal kalau menempatkan sniper,’’ ujar Ketua Presidium Indonesia Police Watch Neta Sanusi pane di Jakarta, kemarin (15/8). Neta yang juga penulis buku ‘’Jangan Bosan Kritik Polisi’’ itu menyebut, dari laporan tahunan belum pernah ada tindakan tegas terhadap penjahat dengan teknik sniper.

‘’Itu justru menakut-nakuti masyarakat, seakan-akan situasinya sangat gawat hingga diperlukan sniper. Ini tidak usah diumumkan dan jangan ada pembodohan publik,’’ katanya. Sniper adalah penembak jitu yang dilatih untuk melakukan eksekusi tembakan tepat sasaran jarak jauh.

Menurut Neta, pengumuman tahunan bahwa sniper akan dikerahkan dalam arus mudik tidak menakutkan lagi pada penjahat. ‘’Mereka sudah tahu kalau itu gertakan saja. Justru sekarang harus perbanyak patroli buser di lapangan dengan motor motor trail atau mobil patroli,’’ kata aktivis asal Medan ini.

Pengumuman pengerahan sniper, misalnya diumumkan Kapolda Jateng Inspektur Jenderal (Irjen) Pol Didiek S Triwidodo saat gelar pasukan di Mapolrestabes Semarang, Jumat (10/8/2012) Saat itu, Kapolda Jateng mengatakan, sejak Operasi Candi Ketupat dilaksanakan pihaknya menempatkan pasukan penembak jitu atau sniper di beberapa titik jalur mudik yang rawan tindak kejahatan. Sniper itu untuk menjaga 17 titik rawan bajing loncat yang rawan perampokan.

Catatan Polda Jateng paling tidak ada 17 titik rawan bajing loncat antara lain Tegal, Pemalang, Batang, Rembang, Blora, Temanggung, Cilacap, Sragen, Karanganyar, Ampel Boyolali, Klaten, lalu masing-masing dua pos di Brebes, Semarang, dan Banyumas.

Direktur Reserse Kriminal Umum (Direskrimum) Polda Jateng  Kombes Pol Bambang Rudi Pratikyo saat itu menjelaskan tentang tembak di tempat. Menurut Pasal 49, 50 dan 51 KUHP anggota Polri punya wewenang untuk menembak penjahat yang membahayakan jiwa maupun harta petugas polri dan masyarakat. Ia mengatakan, tembak di tempat akan dilakukan sesuai prosedur. Paling tidak akan diberi tembakan peringatan terlebih dahulu.

Di bagian lain, Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Asrorun Ni'am Sholeh memaparkan, kasus kecelakaan pada saat mudik Lebaran tahun 2011 mencapai 2.770 kasus. ‘’Dari sekian banyak, korban yang mendominasi adalah kelompok rentan, termasuk anak,’’ ujar Asrorun kemarin. Dari 2.770 kasus kecelakaan tahun lalu, sebanyak 449 korban tewas, 760 korban luka dan 1.914 korban ringan.

Asrorun mengungkapkan, dari jumlah itu bahwa kecelakaan juga paling banyak dialami pemudik yang menggunakan sepeda motor dan kecelakaan di tempat hiburan keluarga atau tempat wisata seperti terjatuh, terhimpit, tenggelam. ‘’Ini yang jadi keprihatinan kami. Mudik seharusnya ramah anak jangan justru membahayakan anak,’’ katanya.