Rp 2 M Uang BRI Disikat Perampok PDF Cetak E-mail
Hukum & Kriminal
Ditulis oleh (fes/can)   
Kamis, 16 Agustus 2012 13:52

MUARABULIAN – Kewaspadaan menjelang Lebaran harus lebih ditingkatkan lagi. Sebab, pelaku kejahatan makin berani melakukan aksinya.

Kemarin (15/8), sekitar pukul 09.00, uang tunai Rp 2 miliar milik BRI Cabang Muara Bulian disikat perampok saat melintas di Dusun Purwosari, Kecamatan Bajubang, Kabupaten Batanghari. Selain itu, dua karyawan BRI mengalami luka serius setelah ditembak pelaku.

Informasi yang didapat, aksi perampokan bermula saat lima orang yang terdiri atas dua pegawai BRI, dua security, dan satu sopir bertolak dari BRI Cabang Muara  Bulian membawa uang tunai Rp 6,7 miliar, untuk dibawa ke BRI Unit 1, 2, dan 3 Sungai Bahar, Kabupaten Muarojambi.

Saat tiba di Dusun Purwosari, sekitar 3 atau 5 meter dari Polsek Bajubang, mobil Kijang Innova yang ditumpangi karyawan BRI dihadang pelaku. Perampok yang mengendarai dua sepeda motor itu lalu menodongkan senjata api ke dalam mobil. Mobil yang tanpa pengawalan itu membuat perampok leluasa memaksa mereka untuk berhenti.

Setelah berhenti, perampok memaksa pegawai BRI membuka pintu belakang. Begitu pintu terbuka, perampok mengambil uang dalam tas yang ternyata berisi Rp 2 miliar. Tidak berhenti di situ, perampok kemudian melumpuhkan korban dengan senjata api. Mereka adalah karyawan BRI, Cecep Komadi (35) dan M. Kuniawan (25). Cecep luka di punggung, sementara Kurniawan luka di lengan.  

Perampok kemudian kabur. Sedangkan, korban terluka dibawa ke RS Bratanata Jambi untuk mendapatkan perawatan.

Kapolsek Bajubang Soehadi Soeltan membenarkan kejadian tersebut. Berdasarkan pengakuan korban kepada pihak kepolisian, perampok menggunakan dua unit sepeda motor. Jumlah mereka tidak kurang dari empat orang. “Kami sekarang sedang berupaya melakukan pengejaran terhadap pelaku,” ujar Soehadi Soeltan melalui ponselnya.

Dia mengatakan, salah satu sepeda motor milik perampok berhasil ditemukan polisi di kebun masyarakat, tak jauh dari lokasi kejadian. Motor yang ditemukan jenis GL Pro. “Kami sudah menyisir kebun itu, kuat dugaan pelaku sembunyi di sana,” katanya. Hingga tadi malam, anggota yang diturunkan dari Polres Batanghari masih tetap berjaga di tempat yang dicurigai.

Polda Sesalkan Pengiriman Tanpa Pengawalan

Polda Jambi sangat menyesalkan tindakan pengiriman  uang senilai Rp 6,7 miliar sehingga berujung pada perampokan. Padahal, tujuh polisi standby di CRI Cabang Maura Bulian. “Ada tujuh anggota kita yang bertugas di sana, tapi satupun tidak dilibatkan,” ujar Kabid Humas Polda Jambi AKBP Almansyah.

Disinggung mengenai kemungkinan adanya konspirasi terkait kasus ini, mengingat tidak adanya keterlibatan kepolisian dalah pengawalan, Almansyah belum bisa memastikan. “Kita masih melakukan penyelidikan dan pemeriksaan korban,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Reserse Kriminal Umum (Dir Reskrimum) Polda Jambi Kombes Pol W Wira Wijara juga menyesalkan tidak adanya pengawalan yang melibatkan pihak kepolisian saat pengiriman uang Rp 6,7 miliar tersebut. “Saya sudah bilang jauh–jauh hari, bila mengambil uang gunakan pengawalan polisi. Kita tidak memungut biaya alias gratis,” tegasnya.

Ditanya mengenai pelaku perampokan, Wira Wijaya mengatakan belum bisa memastikan. Namun ia memperkirakan pelaku berjumlah lima orang dan merupakan kelompok Palembang. Dugaan ini dari senjata yang mereka gunakan, yakni jenis FN. “Tim Polda sudah kita turunkan. Kita back up untuk mengejar pelaku,” tandasnya.

Korban Sadar

Sementara itu, dua korban luka tembak, yakni Cecep dan Kurniawan kini menjalani perawatan instensif di RS Bratanata Jambi. Keduanya ditempatkan di ruang Pavilliun Kartika. Cecep dirawat di kamar nomor 3A, sedangkan Kurniawan di kamar nomor 2. Keduanya dalam kondisi sadar, namun keluarga korban belum mengizinkan wartawan untuk mewawancarai.

Ridho, kakak Kurniawan mengatakan, adiknya lagi beristirahat. “Sadar namun dalam keadaan pengaruh bius,” ujarnya.

Kurniawan akan menjalani operasi setelah lengan  kanannya tertembus peluru. “Maaf saya tidak bisa berkomentar banyak. Saya tidak tahu kejadiannya,” elaknya.

Dicoba sekali lagi untuk izin mewawancarai korban dengan didampingi petugas TNI yang bertugas di RS Bratanata, keluarga korban tetap tidak mengizinkan.

“Silakan tanya kepada kepala cabang (BRI), kami takut salah komentar,” ujar rekan korban yang ada di dalam ruangan.

Kerabat korban yang namanya tidak mau disebutkan  mengatakan, saat kejadian Kurniawan sudah menyerah dan mengangkat tangan, namun pelaku masih menembak mereka.

Pihak keluarga Cecep juga tidak memperbolehkan  wartawan melihat kondisi korban. “Belum bisa, maaf ya,” ujar seorang wanita.