| Ruang ICU Penuh, Ibu dan Bayi Meninggal |
|
|
|
| Sosial |
| Ditulis oleh ami/dya |
| Kamis, 17 Januari 2013 10:55 |
|
JAMBI - Harapan Andi Warsuda (24) menimang bayi dari istrinya, Angga Tiara (19) telah pupus. Tidak hanya kehilangan anak, istrinya yang lagi hamil delapan bulan juga menyusul bayinya. Ibu dan bayi yang masih dalam kandungan (janin) ini meninggal dunia di Rumah Sakit (RS) Raden Mattaher Jambi, Selasa malam (15/1) lalu. Andi Warsuda yang ditemui di kediamannya di Jalan Yos Sudarso, RT 10, Kelurahan Sijenjang, Kecamatan Jambi Timur mengaku sangat kecewa dengan pihak rumah sakit, karena penanganan dan layanan yang diberikan sangat lamban sehingga membuat istri dan bayi yang dikandungnya meninggal. Diceritakannya, Selasa lalu, sekitar pukul 17.00, dia membawa istrinya ke RS Raden Mattaher dalam kondisi lemah. Dia berharap istrinya mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit pelat merah itu. Dia mengatakan, ketika tiba di RS Raden Mattaher istrinya masuk ke ruang IGD pada pukul 17.00. Di sana istrinya mendapat pertolongan pertama dengan dipasang infus. Selanjutnya, istrinya itu sempat disuntik tiga kali. Namun setelah itu, Angga Tiara yang seharusnya dibawa ke ruang ICU karena harus mendapat penanganan khusus, terhambat pihak rumah sakit menyatakan ruangan ICU telah penuh. ”Waktu saya ke sana istri saya masih sadar, tangannya masih bergerak,” katanya, sedih. Sementara, Andi dan keluarganya terus berupaya mendesak pihak rumah sakit untuk mencarikan ruangan. Meski ditanggapi akan tetapi terkesan tidak serius. Sebab selayaknya pelayanan di rumah sakit, yang harus pergi menanyakan di ruang informasi, malahan menyuruh keluarga pasien. Bahkan sebelumnya, keluarga pasien harus mutar-mutar rumah sakit karena disuruh membawa sampel darah dan urine korban ke laboraturium. Sementara, keluarga pasien juga tidak mengetahui di mana ruang labor itu. “Sekali sampai di labor, kata orang labor darahnya tidak bisa dicek karena beku, dan kami tambah bingung,” ungkap Anista, kakak ipar korban. Setibanya, di bagian informasi, keluarga pasien juga harus menunggu lama. Sebab, bagian informasi yang mencoba menghubungi dengan telepon ke ruangan tidak mendapatkan jawaban karena telepon tidak diangkat. Kejadian itu, kata Anista, berlangsung sekitar setengah jam lamanya. Karena tidak ada jawaban bagian informasi menyarankan keluarga korban untuk mengecek langsung ke ruangan. Singkat cerita, akhirnya ada ruangan kosong di bagian kebidanan. ”Pertamanya mereka bilang tidak ada, padahal kamar itu kosong dan dikunci dengan rapat,” ungkap Andi. Bahkan lanjut Andi, perawat yang ada di sana jusru berkata, “biasanya juga tidak melalui bagian informasi, langsung dibawa ke ruangan ini,” lanjutnya, menirukan kata perawat itu. Karena proses pencarian ruangan yang begitu lama dan kondisi korban semakin buruk, pihak IGD sudah menyatakan bayi yang dikandung korban juga sudah terlalu kritis dan dinyatakan sudah sulit untuk diselamatkan. Hanya saja pihak IGD menyarankan untuk segera diatasi agar sang ibu bisa diselamatkan. ”Bayi yang dikandung istri saya tahunya meninggal pada saat di IGD, anak saya katanya mengalami gangguan jantung akan tetapi keterangan dari sana istri saya besar kemungkinan bisa diselamatkan jika diatasi dengan cepat,” ungkap Andi sambil meneteskan air mata. Mendengar itu, Andi yang pada pukul 19.00 mendapatkan ruangan di kebidanan yaitu ruangan HCU kebidanan, bergegas menuju ruangan itu. Istrinya yang sedang kritis bukannya ditangani dengan dokter sepesialis. Di sana hanya ada beberapa perawat. Melihat istriya yang terus melemah, Andi pun panik. Keluarga terus bertanya di mana dokternya. Bahkan karena Andi dan keluarga terus bertanya perawat yang ada di sana balik marah. “Kenapa ibu marah-marah, cari saja sendiri,” kata Anista, menirukan perkataan perawat yang ada di ruangan itu. Andi juga mengatakan, setelah beberapa menit di sana di ruangan HCU kebidanan itu, ada seseorang yang datang dengan menggunakan baju bebas. Andi mengaku tidak mengetahui secara persis itu dokter atau bukan. ”Dia datang hanya memeriksa dan istri saya juga di ruangan itu sempat disuntik dua kali,” sambungnya. Dan yang tidak habis pikir, lanjut Andi, para perawat di sana justru sibuk dengan pekerjannya sendiri. Para perawat yang ada di ruangan itu hanya sibuk bermain handphone tanpa memperhatikan pasien yang sedang membutuhkan pertolongan yang tidak lain adalah istrinya. ”Setiap ditanya keberadaaan dokter, mereka hanya bilang lagi di jalan, masa iya dari jam 7 hingga 10 malam belum juga datang emang jalannya dimana,” kesalnya. Bahkan, kata Andi, ada perawat yang mengatakan dokter baru bisa datang besok pagi. Perawat itu mengatakan, dokter hanya bisa datang jika pasien memang benar-benar kritis. ”Seharusnya kan yang seperti dilakukan operasi jika perlu dan berapa pun biayanya akan kami bayar, kok malah mereka mengatakan kalo pasien memang benar-benar kritis, emang yang kritis bagaimana lagi,” keluhnya. Dan pada akhirnya istri Andi yang hanya mendapatkan perawatan alakadarnya tidak dapat ditolong lagi dan menghembuskan nafas terakhirnya sekitar pukul 22.00. Dengan rasa menyesal Andi dan keluarga membawa istrinya pulang. Akan tetapi sebelum pulang Andi harus menyelesaikan administrasi sebesar Rp 1.240.000. ”Sebenarnya kami menggunakan jampersal, tapi kata mereka tidak berlaku dan kami harus bayar,” katanya. Sementara pihak rumah sakit, melalui dr Herlambang mengatakan, pihaknya sudah melakukan hal yang sudah benar. Bahkan dirinya mengaku tidak ada sedikit pun pembiaran dalam masalah ini. Menurutnya, pihaknya sudah melakukan sesuai dengan prosedur dan standar yang ada. Hanya saja lanjutnya, kondisi pasien kala itu memang sudah sangat lemah dan kondisi pasien sudah sangat menurun. ”Melihat kondisi pasien seperti apapun yang kita lakukan kita konservasif, jadi melihat itu ya mau diapain,” katanya. Sebelumnya, Jambi Independent juga sudah berusaha menemui manajemen RS Raden Mattaher, namun mereka tidak ada di tempat. Terpisah, dihubungi via ponselnya, Ketua Ikatan dokter Indonesia (IDI) Provinsi Jambi, dr Armayani Rusli SpB mengatakan, jika pasien rujukan artinya kondisi pasien tidak bisa dianggap remeh. Maka pihak UGD sifatnya harus segera memberikan penanganan yang tepat kepada pasien, itu adalah SOP-nya. Yakni dengan melakukan pemeriksaan tensi, nadi, nafas dan urin pasien. “Tidak membiarkan pasien atau menunggu pasien lebih gawat,” ujarnya. Ada dua kategori pasien masuk dalam kategori emergensi jelasnya. Yakni bedah dan non bedah, merujuk pasien dalam keadaan hamil, maka dikategorikan non bedah. Bisa saja pasien mungkin dalam kondisi emergensi akibat kehamilannya, karena itu nafasnya harus dikontrol, berikut sirkulasi darah, berikut mengontrol jantung janin. Kemudian katanya apa perlu dilakukan tindakan resusitasi. “Yang harusnya bisa diatasi atau ditangani lebih dini oleh dokter jaga di UGD,” paparnya, lagi. Harusnya dalam memberikan pertolongan terkait nyawa manusia tidak ada alasan penolakan, karena ruangan penuh. Karena itulah Armayani Rusli menyarankan RSU Raden Mattaher untuk memperbaiki sarana dan prasarana penunjang sehingga bisa melayani pasien dengan lebih baik. Termasuk menambah jumlah kamar OK, kapasitas ruang ICU serta meningkatkan standar pelayanan di UGD. Untuk pelayanan di UGD dokter jaga harus punya sertifikat Advanced Trauma Life Support (ATLS) dan sertifikat Advanced Cardiac Life Support dengan masa berlaku lima tahun dan harus di-up date dengan mengikuti pelatihan. Dalam komponen RS, diakuinya, ada manajemen dalam hal ini direktur, komite medik dan komite keperawatan. Komite medik, diakuinya, bertanggung jawab terhadap SOP rumah sakit, mulai dari UGD, rawat jalan atau rawat inap. Jika ini berjalan, maka bisa diketahui ada atau tidak pembinaan yang dilakukan terhadap dokter jaga di UGD, berikut pemetaan tentang kasus-kasus pasien, dari situ diharapkan dapat meningkatkan pelayanan yang lebih baik.
|








![]() | Online Hari ini | 5399 |
![]() | Online Minggu ini | 55385 |
![]() | Online Bulan ini | 174768 |