| Tumenggung Tarib, Warga SAD yang Resmi Masuk Islam (1) |
|
|
|
| Jambi Barat |
| Ditulis oleh LUKMAN HAKIM, Sarolangun |
| Senin, 16 November 2009 10:47 |
|
Ganti Nama, Langsung Dinikahkan secara Islami Tokoh Suku Anak Dalam (SAD), Tumenggung Tarib (55), kemarin (13/11), secara resmi memeluk agama Islam. Pria yang sebelumnya dikukuhkan sebagai raja (tumenggung) dalam komunitas suku terasing yang mendiami kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) itu memutuskan untuk meninggalkan aliran ateisme (tidak punya aliran atau kepercayaan) yang selama ini dianutnya. Masjid Pondok Pesantren Al-Hidayah Sarolangun, pukul 10.00 WIB, terlihat ramai dari biasanya. Cuaca mendung tidak menghalangi niat para santri, ibu-ibu majelis taklim, alim ulama, dan tokoh masyarakat setempat untuk masuk dan memadati ruangan masjid bercat putih berukuran 15x15 meter itu. Sebelumnya, Tumenggung Tarib dan istrinya sudah mengucapkan dua kalimah syahadat di desanya. Untuk lebih menyempurnakan, keduanya kembali melakukan pengucapan dua kalimat syahadat dan ulang nikah secara Islam. Tumenggung Tarib atau Muhammad Jaelani, nama barunya, dengan setelan baju koko putih duduk berdampingan dengan putranya, Mandum atau Abdul Qodir, nama barunya, di sebelah kiri mimbar masjid. Keduanya terlihat asyik berbincang-bincang dengan para alim ulama dan masyarakat yang duduk tak jauh darinya. Sementara istri Tumenggung Tarib, Putri Jija Sanggul atau Siti Khadijah bersama menantunya, Rodiana, duduk di antara para ibu dan santriwati Ponpes. Keduanya juga terlihat asyik berbincang-bincang dengan seluruh keluarga. Beberapa menit kemudian acara dimulai. Tumenggung Tarib dan istrinya diminta duduk di depan, berhadapan para alim ulama dan KUA Kecamatan Sarolangun. Istri Tumenggung Tarib terlihat agak canggung dan sedikit malu. Dia menutup wajah dengan selendang putih yang dikenakan. “Bapak Muhammad Jaelani dan ibu Siti Khadijah sudah yakin betul untuk memeluk agama Islam dan ulang nikah secara Islam tanpa paksaan dan tekanan dari pihak mana pun?” tanya Kepala KUA Sarolangun Nasrun Bakri. Keduanya lantas menyatakan bersedia dan menganggukkan kepala. Mendengar jawaban tersebut, Nasrun Bakri memulai dengan membimbing keduanya mengucap istigfar dan ikrar pembacaan dua kalimat syahadat dengan pelan. Pasangan suami-istri itu pun terdengar mengikuti, meski masih terbata-bata. Setelah dinyatakan sah, Nasrun terus melanjutkan prosesi ulang akad nikah di bawah bimbingan terlebih dulu. Maskawin pernikahan hanya seperangkat alat salat. Ketika disuruh memilih jawaban akad nikah, Tumenggung tarib memilih jawaban akad nikah yang singkat. Alasannya, takut salah bila yang panjang. “Awak (saya) terima nikahnya Siti Khadijah dengan maskawin tersebut,” jawabnya. Mendengar jawaban Tumenggung, terdengar suara riuh-rendah karena sebutan “saya” diganti dengan “awak”. Namun setelah diulangi, saksi menyatakan sah. Lalu Siti Khadijah diminta mencium tangan Tumenggung Tarib. Siti Khadijah sempat menolak karena merasa malu. Namun setelah diberi pengertian sudah sah, baru dia mencium tangan suaminya sambil meneteskan air mata. Suasana sontak berubah menjadi haru. Usai disalami istrinya, Tumenggung Tarib mengucap hamdalah sambil turut meneteskan air mata. “Awak juga idak tahu tibo-tiba air mata awak jatuh. Awak ko sangat jarang nangis, mungkin ikolah hidayah kato Pak Yakub dulu (Yakub adalah orang yang banyak membimbing Tumenggung Tarib, red),” sebutnya. (Bersambung) |