| Hipospadia Sebabkan Gangguan Fungsi Seksual |
|
|
|
| Kesehatan |
| Ditulis oleh SITI MASNIDAR, Kota Jambi |
| Selasa, 24 November 2009 10:25 |
|
Jika Tidak Segera Dioperasi Menurut dr Riswan Joni, spesialis bedah, hipospadia adalah kelainan yang dibawa sejak lahir dimana penderitanya adalah mereka yang berjenis kelamin pria. Penderita hipospadia mengalami kesulitan saat buang air kemih karena air kemih tidak keluar secara normal selayaknya anak laki-laki, dimana lubang uretra terdapat di penis bagian tengah maupun bawah, bukan di ujung penis. “Air kemih keluar di daerah tengah atau bagian bawah bukan di ujung penis,” ujarnya saat ditemui Jambi Independent di Rumah Sakit Mayang Medica Center (MMC) baru-baru ini. Pada kebanyakan penderita, terdapat penis yang melengkung ke arah bawah, yang tampak jelas pada keadaan ereksi. Bengkok tersebut terjadi karena uretra yang seharusnya terbentuk menjadi atropi atau tidak tumbuh sehingga menjadi chordae yaitu jaringan ikat fibrosa yang menyebar mulai dari meatus yang letaknya abnormal ke glans penis. Beratnya hipospadia bervariasi, kebanyakan lubang uretra terletak di dekat ujung penis, yaitu pada glans penis. Bentuk hipospadia yang lebih berat terjadi jika lubang uretra terdapat di tengah batang penis atau pada pangkal penis, dan kadang pada skrotumskrotum. Kelainan ini seringkali berhubungan dengan kordi, yaitu suatu jaringan fibrosa yang kencang, yang menyebabkan penis melengkung ke bawah pada saat ereksi. “Tergantung lubangnya dimana. Semakin ke pangkal, semakin berat,” ujarnya. (kantung zakar) atau di bawah Mengenai bentuk hipopesdia, pemilik MMC ini menjelaskan ada lima macam; di glans disebut dengan hipospadia glander, di daerah korona disebut hipospadia korner, di daerah penis disebut hipospadia penilis, di daerah skrotum disebut hipospadia skrotalis dan di daerah perineal disebut hipospadia perineal. Mengenai gejalanya, dr Riswan menjelaskan, biasanya lubang penis tidak terdapat di ujung penis, tetapi berada di bawah atau di dasar penis. Gejala lain penis melengkung ke bawah, penis tampak seperti berkerudung karena adanya kelainan pada kulit depan penis, dan jika berkemih, anak harus duduk. Untuk melakukan diagnosa, Izwan mengatakan diagnosis ditegakkan berdasarkan pemeriksaan fisik. Jika hipospadia terdapat di pangkal penis, mungkin perlu dilakukan pemeriksaan radiologis untuk memeriksa kelainan bawaan lainnya. Lalu bagaimana jika dibiarkan? Riswan menjelaskan, jika diobati, mungkin akan terjadi kesulitan dalam pelatihan buang air pada anak dan pada saat dewasa nanti. Tidak hanya itu, ia juga bisa memiliki gangguan pada saat melakukan hubungan seksual karena sperma tidak bisa masuk ke vagina karena lubang tidak berada di ujung penis. Ini berarti, ia akan sulit untuk memiliki keturunan. “Jika tidak diobati, bisa berpengaruh pada saat buang air kecil, dan bahkan sampai pada fungsi seksualnya,” ujarnya.(*) |