Otak Pembobol ATM Lari ke Hongkong PDF Cetak E-mail
 Dibaca: 206 kali.
Nasional
Ditulis oleh jpnn   
Sabtu, 06 Februari 2010 14:47
JAKARTA - Dalang sindikat pembobolan ATM nasabah perbankan saat ini diduga sudah lari ke luar negeri. Tim khusus yang dipimpin Direktur II/Ekonomi Khusus (Eksus) Bareskrim Mabes Polri Brigjen Pol Radja Erizman sudah meminta bantuan Interpol untuk melacak. "Kami menduga ada dua (pelaku) yang  terbang ke Hongkong," kata Radja Erizman kemarin (5/2). Mabes Polri telah mengirim red notice ke Interpol. "Kami berharap ada bantuan internasional untuk segera menangkap mereka," tutur mantan Kapolres Depok tersebut.

Dua tersangka yang diduga lari ke Hongkong itu merupakan warga Indonesia. Mereka berinisial T dan H. "Saya tidak bisa menyebut nama lengkapnya," kata Radja.

Selain itu, polisi juga memburu seorang pelaku berkewarganegaraan asing dengan inisial M. Dia merupakan warga Bulgaria. "Dia itu ahli IT dan punya kemampuan melakukan pembobolan kartu kredit secara profesional," terang Radja.

M juga diduga telah melarikan diri ke luar negeri. "Dari pengakuan tersangka yang lain, dia memang mempraktikkan ilmunya di Indonesia," kata Radja. Polri dan Interpol selama ini sudah bekerja sama secara harmonis. "Interpol punya akses di setiap negara," ujarnya.

Berdasar pelacakan tim yang dipimpin Radja, Polri menemukan dua jaringan pembobol rekening nasabah bank di Bali. Kedua jaringan itu dipimpin F dan S yang beroperasi dengan cara berbeda. "F bermain dengan kartu kredit, sementara S menggunakan skimmer (alat pengganda kartu ATM)," katanya.

Dari informasi yang dihimpun Mabes Polri, S telah beroperasi sejak setahun lalu, tepatnya Oktober 2008. Sebagai pelaku pembobolan ATM bank, dia memiliki anggota belasan orang. Sejauh ini baru tujuh anggota sindikatnya ditangkap. "Kekuatan jaringan mereka bisa menarik Rp. 540 juta setiap hari," jelas Radja.

Hingga kini Polri telah menahan 37 tersangka pembobolan rekening yang tersebar di berbagai daerah. Kemarin (5/2) sembilan orang di antaranya dipertontonkan di depan wartawan.  "Kita belum berani menyatakan ini terkait jaringan internasional. Kita tunggu tertangkap dulu," ujar mantan Kapolres Tangerang itu. 

Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Edward Aritonang menambahkan, modus pelaku pembobolan dana nasabah bank di lima wilayah operasi berbeda-beda. Para pelaku yang tertangkap beraksi di Jakarta, Bali, Samarinda, Yogyakarta, dan Pontianak.

Untuk wilayah Bali, kata Edward, para pelaku menjalankan aksi dengan memasang skimmer dan kamera pengintai untuk mencuri data digital kartu maupun nomor personal identification number (PIN) ATM nasabah. Selanjutnya kartu diduplikasi. Lalu dilakukan penarikan tunai dana nasabah atau dengan mentransfer ke rekening pelaku.

Soal modus di Jakarta, selain memasang skimmer di mesin ATM, pelaku juga mencuri data kartu ATM lewat mesin electronic data capture (EDC). Alat itu biasa digunakan di pusat-pusat perbelanjaan.

Di Samarinda, pelaku mencuri data nasabah lewat EDC dan kemudian memalsukan kartu debit nasabah. Selanjutnya mereka memanfaatkan mesin EDC pada hotel untuk menguras dana nasabah.

Di Yogyakarta, pelaku melakukan mark-up (penggelembungan) transaksi dengan menggunakan mesin EDC. "Misalnya, kita beli aju  Rp 200.000, kasir menambahkan satu nol menjadi dua juta. Itu tentu ada kerja sama dengan pemilik mesin atau pegawai toko," ungkapnya.

Sedangkan di Pontianak, lanjut Edward, pelaku memasang alat penjepit di dalam mesin ATM untuk menahan kartu. Setelah kartu tersebut tersangkut, pelaku berpura-pura membantu korban dan menyarankan menghubungi nomor call center palsu. "Operator gadungan kemudian meminta nomor PIN ATM nasabah. Lantas kartu diduplikasi dan dana dikuras," katanya.

Mantan tenaga ahli Lemhanas itu membenarkan informasi bahwa seorang pegawai outsourcing Bank Danamon berinisal AS sudah ditahan. AS ditangkap di Bandung. Dia menjadi orang "dalam" kedua yang ditangkap setelah seorang pegawai (supervisor) BCA. "Jadi ada dua oknum pegawai perbankan. Yang satu supervisor, yang satu lainnya (pegawai) outsourcing," jelas Edward.(jpnn)