Darmi (42), Penderita Kanker Payudara dan Tumor Ganas PDF Cetak E-mail
 Dibaca: 253 kali.
Metro Jambi
Ditulis oleh Desri NR, Telanaipura   
Senin, 08 Februari 2010 14:08
Kurang Biaya, Anak Sampai Tak Bisa Sekolah

Malang nian nasib Darmi, warga Kualatungkal, Tanjab Barat. Selain divonis menderita kanker payudara, wanita asal Jawa itu juga mengidap tumor ganas di perutnya. Kini dia dirawat di RSU Raden Mattaher.

Darmi sedang terkulai lemah di dipan ruang rawat inap bedah kelas III RSU Raden Mattaher, beberapa hari lalu. Tubuhnya kurus, wajahnya pucat, ketika menyambut Jambi Independent.

Darmi adalah janda beranak dua. Dia baru pindah ke Jambi pada 2009 lalu. Sehari-hari dia bekerja sebagai penjaja jamu gendong, cukup untuk menghidupi anak-anaknya yang masih bersekolah.

Sekitar tahun 2008, Darmi merasakan sesuatu yang janggal pada payudaranya. Ada benjolan aneh. Namun ketika itu Darmi tak mengindahkan. Benjolan itu tak diambil pusing olehnya. Bahkan dia tetap beraktivitas seperti biasa sebagai penjaja jamu gendong.

Namun lama-kelamaan benjolan di dadanya kian besar. Ketika pindah ke Kualatungkal, Tanjab Barat, pada 2009, Darmi memeriksakan diri ke RS KH Daud Arief Kualatungkal. Dokter di rumah sakit itu memvonis Darmi positif terkena kanker payudara. Panik, Darmi tetap mengikuti saran untuk dioperasi.

Sebulan pascaoperasi, benjolan di dada Darmi kembali muncul. Darmi kembali panik. Begitu sadar kanker itu tumbuh lagi, dia nekat berangkat ke Jambi. Di salah satu praktik bedah, dia kembali menjalani operasi pengangkatan. Biaya operasi sudah mencapai puluhan juta. Nilai yang cukup besar bagi seorang janda penjaja jamu gendong.

Sekitar Februari 2009, dia merasakan kelainan pula di bagian perut. Makin lama perutnya makin membesar hingga menyerupai orang hamil. Darmi memeriksakan diri ke dokter. Hasilnya, dia divonis mengidap tumor ganas pada rahim. Dokter menyarankan agar Darmi segera menjalani operasi pengangkatan tumor.

Pascaoperasi pengangkatan tumor di rahim yang pertama, Darmi kembali menjalani aktivitas sehari-hari. Sayang, pada Januari 2010, Darmi kembali merasakan kelainan pada perutnya. Malah sekitar seminggu dia tak bisa buang air besar.

Karena khawatir, Darmi kembali memeriksakan diri ke RSU Raden Mattaher. Dan ternyata tumor ganas itu kembali tumbuh. Darmi kaget.

Dokter menyarankan agar Darmi kembali menjalani operasi kedua kali. Sebelum operasi, berat badan Darmi turun drastis, dari 50 kilogram menjadi 45 kilogram.

Begitulah nasib Darmi. Ibarat sudah jatuh ditimpa tangga, dia kini hanya bisa meratapi nasib. Di tengah kesulitan hidup, janda beranak dua itu terpaksa menghabiskan harinya di rumah sakit. Tak bisa berbuat apa-apa. Bahkan semua harta sudah dihabiskan untuk berobat.

“Anak-anak saya sekarang tidak sekolah lagi. Tidak ada biaya,” ungkap Darmi, meneteskan air mata.(*)