Komplotan Hipnotis Sedot Rp 1,4 M PDF Cetak E-mail
 Dibaca: 177 kali.
Nasional
Ditulis oleh jpnn   
Senin, 08 Februari 2010 15:55
Ditabok Lalu Dihadiahi Rolex Palsu

SURABAYA - Acok Ridwan alias Adnan Safrudin bin Karim (44) sempat emosi saat dicecar pertanyaan wartawan di teras Mapolres Surabaya Selatan kemarin. "Ngapain kamu tanya-tanya pada saya?" tegur Acok. Dia adalah otak dari komplotan gendam. Setahun terakhir, tercatat ada 20 korban dengan kerugian mencapai Rp 1,4 miliar.

Acok ditangkap Rabu pekan lalu (3/2). Penangkapan itu adalah puncak berbagai informasi yang telah dihimpun polisi dari 20 korban. Saat ditangkap tersebut, Acok bersama Erik Estrada alias Awang David bin Anwar Yusuf (27). Mereka berdua melintas di Jalan Margorejo, naik Toyota Avanza hitam B 1375 SFI.

Erik Estrada yang menjadi sopir waktu itu tahu jika dirinya dikuntit. Akibatnya, mereka berusaha kabur dengan menabrak terlebih dahulu mobil petugas Satreskrim Polres Surabaya Selatan. Dalam aksi itu, Erik juga sempat menabrak seorang pengendara motor.

Tidak lama, mobil yang dikemudikan Erik berhasil dipepet petugas. Mereka tidak melawan saat digeledah. Dari hasil penggeledahan, petugas menemukan satu bendel uang dolar AS pecahan USD 100. Jumlahnya USD 1.000. Selain itu, petugas juga menemukan enam arloji Rolex palsu.

Setelah diinterogasi, keduanya langsung dikeler di tempat kos di Jalan Dukuh Kupang Timur XVI/14. Di tempat itu, petugas menangkap Basri Said (37) dan Abdul Muin alias David Ibrahim (47). "Semuanya ini satu komplotan," tegas Kapolres Surabaya Selatan AKBP Bahagia Dachi.

Komplotan itu punya pembagian tugas yang rapi saat beraksi. Erik dan Basri bergantian menjadi sopir. Sementara Acok dan Muin bergantian menjadi eksekutor.

Menurut keterangan Kasat Reskrim Polres Surabaya Selatan AKP Leonard Sinambela, korban utama bidikan komplotan Acok adalah perempuan. Setelah menemukan target, orang yang bertugas sebagai eksekutor langsung melakukan pendekatan.

Cuap-cuap pertama kali yang kerap ucapkan komplotan ini adalah curahan keluhan karena kehabisan perbekalan. Kepada korban, mereka mengaku pelancong dari negeri Jiran Malaysia. "Kebetulan logat bicara mereka Melayu," tambah Leonard.

Sebelum berkomunikasi, Acok atau Muin terlebih dahulu menabok pundak korban. Cara itu dilakukan sambil menyapa. Menurut pengakuan Acok, tabokan itu adalah penyalur ilmu gendam yang mereka miliki.

Setelah itu, pelaku mulai menambah intensitas komunikasi. Beberapa kali, komunikasi mengarah pada kong-kalikong bisnis. Bla-bla-bla, ujung-ujungnya pelaku meminta sejumlah uang kepada korban. Sebagai ungkapan rasa terima kasih, pelaku memberikan sebuah arloji Rolex palsu. "Selain ucapan terima kasih, arloji itu juga untuk mengikat komunikasi dengan korban," jelas Leonard. Selama diajak berbicara, seluruh korban mengaku sadar. Bahkan saat pergi ke ATM untuk menarik uang, juga dalam kondisi sadar. "Tetapi nyatanya uangnya juga diberikan begitu saja," ungkap Leonard.

Dari tangan keempat tersangka, petugas berhasil menyita 13 arloji Rolex palsu. Arloji itu mereka dapatkan dari Jakarta. Petugas kini sudah mengantongi nama penyuplai arloji awu-awu itu. Mereka adalah AC, warga Jakarta, dan BA, warga Malang. "Sekarang masih dalam proses pengejaran," tambah Leonard.(jpnn)