Takziah di Rumah Duka B.J. Habibie di Munchen, Jerman PDF Cetak E-mail
Nasional
Ditulis oleh Djoko Susilo   
Selasa, 25 Mei 2010 16:56
Dari Swiss Paling Dekat, Ikut Yasinan hingga Tengah Malam

Bagaimana suasana di rumah duka B.J. Habibie di Munchen, Jerman, menyambut kedatangan jenazah Hasri Ainun Besari Habibie? Mantan wartawan Jawa Pos (induk Jambi Independent) yang kini menjadi Dubes RI untuk Swiss DJOKO SUSILO, Minggu (23/5), menyempatkan bertakziah. Inilah laporannya. Meski saya berada di negara lain, yakni di Bern, Switzerland (Swiss), secara geografis saya justru menjadi pejabat RI yang terdekat dengan keluarga B.J. Habibie yang tinggal di Munchen, Bavaria, Jerman Selatan.

Saya hanya butuh empat jam untuk tiba di rumah Pak Habibie. Sementara itu, para pejabat KJRI (Konsul Jenderal Republik Indonesia) Frankfurt perlu waktu sekitar enam jam, KBRI di Berlin butuh waktu delapan jam, dan para pejabat KJRI Hamburg perlu waktu hampir sembilan jam.

Saya pun menyempatkan waktu untuk bertakziah ke almarhumah Hj Hasri Ainun Besari Habibie. Tidak hanya karena posisi saya yang sangat dekat secara geografis, tapi juga karena melihat sosok Pak Habibie yang dengan segala kelebihan serta kekurangannya sudah berbuat banyak bagi kemajuan bangsa Indonesia.

Selain itu, adik Habibie, yakni Fanny Habibie, Dubes RI di Den Haag, Belanda, adalah kolega saya. Karena itu, saya merasa perlu memberikan penghormatan terakhir untuk Ibu Ainun Habibie yang cinta dan perhatiannya kepada Pak Habibie sangat luar biasa. Bahkan, bagi teman-teman di Jerman, hal tersebut sudah menjadi legenda, mirip cerita roman Romeo and Juliet yang sangat terkenal itu.

Saya ke Munchen juga karena tahu di kota itu tidak banyak ekspatriat Indonesia. Apalagi kalau harus baca Surat Yasin dan mendirikan salat jenazah. Benar dugaan saya. Ketika tiba di rumah Habibie di Heilmann Strasse, kawasan elite Munchen yang asri, pukul 18.15 waktu setempat, situasi masih sepi. Yang ada hanya beberapa petugas KBRI Berlin.

Tidak ada karangan bunga sama sekali. Sebab, keluarga sudah memberi tahu semua pihak agar tidak mengirimkan karangan bunga. Tapi, mereka menyarankan agar uang pembelian karangan bunga disumbangkan untuk sebuah rumah sakit di Jakarta.

Begitu tiba di rumah duka, seperti biasa, saya mengisi buku duka cita. Lalu, saya menemui kolega saya, Fanny Habibie, Dubes RI di Belanda yang menjadi shohibul bait. Dia sangat terharu atas kehadiran saya. Apalagi, kami sudah agak lama tidak berjumpa, sejak dia bertugas di Belanda tiga tahun lalu.

Bisa dikatakan, semua kegiatan di rumah Pak Habibie dikoordinasi Fanny. Sebab, sejak Ibu Ainun masuk rumah sakit dua bulan lalu, Habibie tidak pernah meninggalkan rumah sakit. Dia selalu berada di sisi istri yang sangat dicintainya itu. Sampai detik terakhir.

Rumah keluarga Habibie yang cukup besar di Munchen itu dibeli sejak sebelum dirinya menjadi pejabat di Indonesia. Nuansa intelektualnya sangat terasa. Begitu banyak buku, majalah, serta monografi hasil riset berbagai bidang.

Itu menunjukkan, sekalipun Pak Habibie sudah tidak menjadi pejabat tinggi negara, minat keilmuannya sangat tinggi dan tidak pernah berhenti. Sangat jarang saya menemukan kediaman pemimpin Indonesia yang mempunyai citra dan nuansa intelektual sehebat beliau.

Terus terang, saya yang jauh lebih muda sangat malu karena tidak memiliki semangat setinggi beliau. Bahasa Jerman dan Inggris-nya sangat perfect. Kabarnya, beliau juga memahami bahasa Prancis.

Minggu (23/5) malam itu, acara Yasinan direncanakan dimulai pukul 19.00 dan berakhir pukul 21.00 untuk dilanjutkan salat magrib bersama. Mohon maklum, memasuki musim panas seperti sekarang ini, kami di Eropa baru menjalankan salat magrib pukul 21.00 dan sudah harus bangun salat subuh pukul 03.30. Isyanya sekitar setengah dua belas malam.

Namun, karena teman-teman yang mau membaca Surat Yasin umumnya dari luar Munchen, acara baru bisa dimulai pukul 19.30 yang dipimpin H Saiful, imam Masjid Al Falah Den Haag. Memang, Dubes Fanny Habibie membawa rombongan khusus dari Belanda karena mereka yang menangani segala persiapan sebelum keberangkatan jenazah ke Jakarta dengan dukungan semua pejabat konsuler serta KBRI di Jerman.

Dubes Berlin Edhy Pratomo dan Wakil Dubes untuk Belanda Umar Hadi ikut menyimak bacaan Surat Yasin dengan jamaah lainnya. Ada sekitar 25 orang yang ikut hadir membaca Surat Yasin. Semua membaca dan menyimak dengan khusyuk. Saya juga melihat beberapa di antara mereka sampai berlinang air mata mengingat kecintaannya kepada keluarga Habibie.

Selesai pembacaan Surat Yasin, kami berdoa bersama dan kemudian menjalankan salat magrib berjamaah. Setelah magrib, tamu mulai berdatangan. Kebanyakan warga Indonesia. Ada beberapa kolega Jerman. Tapi, warga Indonesia tetap yang banyak.

Meski demikian, sampai sekitar pukul 23.00, saya perkirakan ada lima puluh hingga enam puluh warga yang bertakziah di rumah duka. Itu wajar saja. Sebab, tidak banyak warga Indonesia di Munchen. Juga, di Jerman, takziah itu by invitation (lewat undangan). Tidak seperti di kampung kita yang otomatis warga akan datang ramai-ramai begitu ada tetangga yang meninggal. Maklum, prosesi pemakaman diangggap urusan sangat privat bagi orang Eropa.

Akhirnya, pukul setengah dua belas malam, jenazah Ibu Ainun tiba. Suasana di luar rumah agak gelap dan dingin, meski ini bukan musim dingin. Fanny Habibie sebagai wakil keluarga menyambut di depan rumah didampingi Dubes Berlin Edhy Pratomo yang mewakili pemerintah RI.

Para petugas secara bersama mengangkat peti jenazah dan membawanya masuk ke rumah untuk disemayamkan. Jenazah dibawa ke ruang tengah di lantai tiga yang cukup lapang. Di ruangan itu sudah disiapkan meja besar yang ditutupi kain putih, tempat peti jenazah diletakkan.

Kami kemudian menyalati jenazah. Ada sekitar tiga saf, tiga puluhan orang. Pak Habibie beserta dua putranya, Dr Ilham Habibie dan Tareq Kemal Habibie, ikut menjadi makmum. Setelah selesai salat dan berdoa, kami bubar dan ruangan tersebut ditutup. Ruangan itu hanya untuk Habibie menghabiskan malam terakhirnya dengan jenazah Ibu Ainun di Munchen. Tentu, itu merupakan masalah yang sangat privat dan semua orang bisa memaklumi, mengingat besarnya cinta Pak Habibie kepada Ibu Ainun.

Senin pagi (24/5) waktu Munchen, jenazah Ibu Ainun dibawa ke bandara sekitar pukul 07.00 (pukul 12.00 WIB) karena harus melalui penyelesaian administrasi sebelum diterbangkan ke Indonesia. Pukul 09.00, pesawat Boeing 747 GIA tiba dan kembali ke Jakarta dua jam kemudian dengan membawa Habibie bersama jenazah istri yang dicintainya. Mantan presiden RI itu tidak mau berpisah walau sekejap saja dari jenazah sang istri.

Diperkirakan, pagi ini pukul 05.00 waktu Jakarta, pesawat yang membawa jenazah almarhumah tiba di Bandara Halim Perdanakusuma. Dari bandara, jenazah akan disemayamkan di rumah duka di Jalan Patra Kuningan XIII, Jakarta. Kemudian, sekitar pukul 11.00, jenazah dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Menurut rencana, upacara pemakaman secara kenegaraan itu dipimpin langsung Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Selamat jalan Bu Ainun.(*)

 
Baner
Baner
Baner

Cari Artikel

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterOnline Hari ini1152
mod_vvisit_counterOnline Minggu ini49549
mod_vvisit_counterOnline Bulan ini157654
Your IP: 184.73.7.143
 , 
Today: Jun 19, 2013