Opini Linieritas Dosen Perguruan Tinggi

Linieritas Dosen Perguruan Tinggi

0
BAGIKAN

Oleh: Dr. Suyadi, S.Pd., M.A.

MERUJUK pada Surat Edaran dari Kemeneterian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi tertanggal 11 Agustus 2014 mengenai linieritas bidang ilmu bagi dosen menyatakan bahwa linieritas dapat diartikan sebagai relevansi bidang ilmu dalam sebuah program pendidikan yang akan menunjang ketercapaian visi dan misi program studi. Istilah linieritas ini menimbulkan banyak keresahan di kalangan perguruan tinggi terutama di kalangan para dosen itu sendiri. Masih terdapat banyak ketidakmengertian dan kesimpangsiuran informasi yang didapat oleh para dosen. Dalam tulisan ini saya tidak akan mengulas secara rinci tentang apa itu sebenarnya linieritas bagi para dosen, akan tetapi saya akan menyampaikan pengalaman pribadi saya ketika fakultas dimana saya mengajar melaksanakan akreditas bidang studi pada pertengahan bulan Mei tahun 2016.

Akreditasi merupakan nafasnya sebuah program studi di setiap perguruan tinggi. Dimana keunggulan sebuah bidang studi tersebut harus ditunjang dengan berbagai perangkat kelengkapannya yang dimulai dari perangkat lunak, perangkat keras hingga kepada sumber daya manusia yang mengelolanya. Untuk mendapatkan pengakuan dari masyarakat akan keunggulan bidang studi maka diperlukan legalitas pengakuan dari pemerintah yang dibuktikan dengan predikat akreditasi yang diperolehnya. Ketika akreditasi yang diperoleh berada dibawah standar biasanya animo masyarakat untuk mengirimkan anak-anaknya belajar di perguruan tinggi tersebut akan berkurang. Mereka lebih memilih mengirimkan anak-anaknya di perguruan tinggi yang minimal mendapatkan akreditas B karena itu merupakan syarat utama yang diharuskan oleh pemerintah agar lulusan perguruan tinggi tersebut dapat bersaing pada ujian seleksi penerimaan pegawai negeri sipil.

Sementara itu untuk memenuhi standar keunggulan dari sebuah program studi tidak dapat dipisahkna dari sumber daya manusia yang mengelolanya terutama para dosennya. Kematangan keilmuan  yang dimiliki oleh seorang dosen saat ini diukur dengan linieritas yang dimiliki oleh dosen yang bersangkutan. Linieritas bidang studi seorang dosen menjadi perdebatan yang hangat bahkan masih menimbulkan kesimpangsiuran karena penjelasan yang didapatkan dari Dirjen Pendidikan Tinggi pun masih belum mapan.

Sebuah kasus katakanlah pada rumpun ilmu bahasa dengan kode 500, subrumpun ilmu sastra (dan bahasa) Indonesia dan Daerah dengan kode 510 dimana bidang ilmu sastra (dan bahasa) Daerah Jawa, Batak, Sunda, dan lain-lainnya tercakup di dalamnya. Apakah jika seorang dosen yang memiliki ijazah S1 Sastra Jawa, ijazah S2 Sastra Sunda, dan ijazah S3-nya Sastra Batak dapat dikatakan linier? Atau dosen tersebut harus mendalami keilmuannya sesuai dengan keilmuannya pada Sastra Jawa hingga hingga S3-nya? Atau hanya cukup linieritas keilmuan dari S2 dan S3-nya saja?

Pengalaman saya

Ketika program studi di fakultas dimana saya mengajar, assessor dari Universitas Negeri Malang melakukan penilaian terhadap semua dosen yang mengajar di program studi tersebut. Satu per satu berkas dari setiap dosen diperiksa keabsahannya dan kelinieritasannya. Sekedar menambah informasi bahwa assessor tersebut telah berpengalaman lebih dari 10 tahun menjadi assessor untuk akreditasi dan telah bertugas hampir sebagian besar perguruan tinggi yang ada di Indonesia baik swasta maupun negeri. Jadi menurut saya keabsahan beliau menjadi seorang assessor tidak perlu diragukan lagi.

Ketika berkas saya diambil dan dicek, beliau memberikan penilaian seraya melakukan tanya jawab dengan saya pada sebuah ruang khusus dimana seluruh dosen program studi berada di tempat yang sama. Lalu komentar beliau mengenai ijazah S1 saya menyatakan bahwa ijazah saya linier dengan program studi yaitu Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris. Sementara itu ijazah S2 saya dinyatakan tidak linier karena ijazah S2 saya itu Sastra Inggris (seharusnya Pendidikan Bahasa Inggris juga). Komentar beliau dosen Sastra Inggris seharusnya mengajar pada Program Studi Sastra Inggris juga bukan mengajar pada Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris. Assessor tersebut melanjutkan pengecekan pada ijazah S3 saya, pada tahap ini banyak yang beliau tanyakan. Beliau mengecek transkrip nilai, ijazah hingga disertasi yang saya hasilkan. Komentar beliau bahwa status saya linier ditinjau dari transkrip nilai yang memuat mata kuliah yang berhubungan dengan pengajaran Bahasa Inggris. Dalam hal ini ada 5 (lima) mata kuliah yang berhubungan dengan Pendidikan Bahasa Inggris. Lalu untuk disertasi saya beliau mengatakan juga linier karena berisikan tentang Pengajaran Bahasa Inggris yaitu English for Specific Purposes untuk Jurusan Akuntansi (ESP for Accounting Students).

Menurut assessor tersebut linieritas S3 saya bukan karena disertasi saya yang ditulis dalam Bahasa Inggris saja, akan tetapi kontennya juga mengenai pengajaran Bahasa Inggris.

Saat ini saya mengajar di FKIP Universitas Batanghari pada Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris sehingga kelinieritasan saya terdapat pada ijazah S1 saya (FKIP Universitas Jambi) dan ijazah S3 saya (Universitas Negeri Padang). Sementara untuk ijazah S2 saya (Pune University, India) dinyatakan tidak linier karena bidang S2 saya adalah Sastra Inggris. Seorang dosen dinyatakan linier (menurut assessor tersebut) apabila dia memegang/mengajar mata kuliah yang berhubunga dengan ijazahnya atau program studi yang terdapat pada ijazah tersebut, atau sekurang-kurangnya ada matrikulasi pada S2 dan S3-nya. Kelinieritasan tersebut bisa terjadi antara S1 dan S2 (jika dosen tersebut baru memperoleh pendidikan Strata 2), atau antara S2 dan S3, dan antara S1 dan S3. Akan tetapi yang lebih baik adalah linieritas itu dimulai dari Strata 1, Strata 2 dan Strata 3.

Semoga tulisan ini bisa memberikan kontribusi kepada para pembaca sekalian dan menjadi langkah awal untuk mencari lagi sumber lainnya yang meyakinkan lagi. Sebab pembagian rumpun keilmuan menurut Dikti ada Level 1, Level 2, dan Level 3 yang menurut saya juga masih terjadi kerancuan. Jadi linieritas itu berarti linier pada bidang ilmu, linier pada mata kuliah yang diajarkan, dan linier pula pada Program Studi dimana seorang dosen tersebut mengajar. Bagi siapa pun yang ingin berkarir menjadi dosen sebaiknya menentukan pilihan sejak dini agar sesuai dengan standarisasi yang diinginkan oleh Pemerintah dan pengakuan dari masyarakat. (*)

*) Alumni Universitas Negeri Padang
Dosen Tetap FKIP Universitas Batanghari

Loading Facebook Comments ...

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here