Opini Masihkah Guru Bertutur Santun?

Masihkah Guru Bertutur Santun?

77
0
BAGIKAN
Ilman Zeid.

Oleh: Ilman Zeid

OPINI – Kualitas guru bisa dilihat dari bentuk tuturannya. Perencanaan tindak tutur bahasa guru sangat penting sebagai usaha bukan saja untuk melestarikan pengarahan bahasa, tetapi juga untuk meluruskan pemahaman yang kurang tepat dalam interaksi pembelajaran. Perencanaan bahasa memuat kebijaksanaan, pengarahan, dan dampak perencanaan itu sendiri.

Ilustrasi berikut sangat menggugah perasaan saya ketika tuturan menjadi lebih berharga laksana emas. Profesi saya sebagai guru diawali  sejak tahun 1996 silam tepatnya di Kabupaten Tanjung Jabung hingga saat ini sampai di Bumi Sailun Salimbai, Kabupaten Muaro Jambi. Berbagai tuturan pun didengar, digunakan, dan direncanakan untuk peserta didik dalam kehidupan sehari-hari selama di sekolah.

Tuturan mendidik, menyapa, menyuruh, memohon, dan mengeluh serta membentak menjadi sesuatu yang dianggap biasa dilakukan. Generasi pun berganti. Tuturan yang telah diucapkan berlalu begitu saja seperti air Sungai Batang Hari mengalir, keruh dan sarat berbagai sampah dari hulu ke hilir.

Tuturan menjadi “emas” ketika suatu hari, saya berpapasan dengan seorang pemuda dan menyapa saya dengan santun. Pemuda itu berkata, “Terima kasih Pak, saya telah mencapai cita-cita saya sesuai ucapan Bapak dulu.” Sontak, saya teringat kembali pada anak didik tersebut bahwa saya pernah berkata, “Tubuhmu kekar dan kuat, Bapak ingin Kamu jadi tentara.” Menurut pengakuannya, tuturan tersebut sangat menyentuh hatinya sehingga tercipta dorongan kuat untuk mencapainya.

Namun, sangat disesalkan masih saja ditemukan tuturan-tuturan yang seharusnya tidak diucapkan dilingkungan sekolah baik oleh guru ataupun siswa (seperti: bodoh, telegu, bengak, pekak, dungu, telmi, oon, lelet, kampang,ompong,  nama hewan, setan, hantu, congek, menghina suku, mengejek fisik serta gelar-gelaran yang menghina, dan sebagainya). Semua tuturan itu masih saja terjadi di hadapan kita sekarang dan hari-hari yang akan datang, tetapi mengapa kita diam? Seolah hal itu biasa, tidak ditegur bahkan dibuat sebagai bahan candaan di dalam kelas!

Bahasa yang digunakan oleh guru dalam bertindak tutur hendaklah sesuai dengan tingkat perkembangan anak. Kemampuan berbahasa anak berkembang bersama-sama pertumbuhan usianya, masalahnya adalah bagaimana cara guru menyesuaikan bahasa dalam interaksi pembelajaran. Tindak tutur dikatakan berhasil membawakan misinya, jika kelak dikemudian hari terjadi perubahan tingkah laku belajar pada diri siswa.

Itulah sebabnya sebagai pengajar dan pendidik  tidak hanya bertugas sebagai pemberi materi belaka. Namun harus dapat juga berperan sebagai perangsang pikiran siswa, penarik perhatian, pemberi motivasi, menjelaskan konsep-konsep abstrak, memahamkan sesuatu yang sulit supaya lebih mudah dipahami, serta memberi pengalaman yang nyata kepada siswa. Untuk itu cara bertindak tutur sebaiknya cocok dengan kebutuhan dan benar-benar menilai orang seperti apakah sebenarnya (Sarnoff, 1997 :7).

Searle (1969) menggolongkan tindak tutur ilokusi ke dalam lima macam bentuk tuturan yang masing-masing memiliki fungsi komunikatif. Kelima macam bentuk tuturan itu dapat dirangkum sebagai berikut : (1) asertif adalah bentuk tuturan yang mengikat penutur pada kebenaran proposisi yang diungkapkan, misalnya : menyatakan, menyarankan, membuat, mengeluh, dan mengklaim. (2) direktif adalah bentuk tuturan yang dimaksudkan penuturnya untuk membuat pengaruh agar si mitra tutur melakukan tindak, misalnya : memesan, memerintah, memohon, menasihati, dan merekomendasi.

Selanjutnya (3) ekspresif adalah bentuk tuturan yang berfungsi untuk menyatakan atau menunjukkan sikap psikologis penutur terhadap suatu keadaan, misalnya : berterima kasih, memberi semangat, meminta maaf, menyalahkan, memuji, dan berbelasungkawa. (4) komisif adalah bentuk tuturan yang berfungsi untuk menyatakan janji atau penawaran, misalnya : berjanji, bersumpah, dan menawarkan sesuatu. (5) deklaratif adalah bentuk tuturan yang menghubungkan isi tuturan dengan kenyataanya, misalnya; berpasrah, memecat, memberi nama, mengangkat, mengucilkan, dan menghukum.

Keberhasilan guru dalam interaksi pembelajaran juga ditentukan oleh pemahaman tentang perkembangan aspek sikap siswa. Dalam pembelajaran tuturan guru untuk menanamkan nilai-nilai sikap sangat penting diperhatikan, karena melalui sikap ini adalah salah satu tujuan dari pendidikan dalam membentuk karakter bangsa. Ranah sikap tersebut mencakup emosi atau perasaan yang dimiliki oleh setiap peserta didik.

Bloom (Brown, 2000) memberikan definisi tentang ranah sikap yang terbagi atas lima tataran sikap yang implikasinya dalam siswa SMP lebih kurang sebagai berikut: (1) sadar akan situasi, fenomena, masyarakat, dan objek di sekitar; (2) responsif terhadap stimulus-stimulus yang ada di lingkungan mereka; (3) bisa menilai; (4) sudah mulai bisa mengorganisir nilai-nilai dalam suatu sistem, dan menentukan hubungan di antara nilai-nilai yang ada; (5) sudah mulai memiliki karakteristik dan mengetahui karakteristik tersebut dalam bentuk sistem nilai.

Fenomena yang terjadi menunjukkan bahwa masih banyak tuturan guru yang kurang dipahami siswa, penggunaan bahasanya kurang lancar dan bahasa yang keliru karena guru kurang memerhatikan tuturannya secara baik dan efektif saat menjelaskan materi pembelajaran kepada siswa. Adanya kecenderungan guru yang terlalu fokus kepada materi dan mengabaikan tuturan yang mengarahkan siswa pada pembentukan sikap sehingga diindikasikan menyulitkan siswa untuk sampai ke tahap yang terampil.

Tuturan guru ketika berinteraksi dan berkomunikasi di luar kelas baik dengan menggunkan bahasa daerah maupun bahasa Indonesia memengaruhi tuturan itu sendiri. Penggunanaan kata ‘kau’ misalnya dalam bahasa Jambi itu hal yang biasa. Namun, dalam bahasa Indonesia dianggap kurang santun dibandingkan  kata ‘kamu’ terutama pada teman sebaya atau lebih muda usianya.

Hal ini menunjukkan bahwa pentingnya tuturan guru untuk pengembangan pengetahuan, sikap dan keterampilan dalam interaksi pembelajaran sangat perlu dipertimbangkan karena tuturan tersebutlah yang membawa siswa pada esensi tujuan pembelajaran. Sangatlah keliru jika masih saja ditemukan penggunaan bahasa yang keliru dan kurang etis diucapkan saat interaksi KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) sedang berlangsung atau di dalam lingkungan sekolah.

Berdasarkan pemikiran tersebut, apakah masih perlu para guru yang cendikia mengucapkan kata-kata keliru terhadap peserta didik? Betapa berat tanggunan anak didik kita, sebab mungkin saja selama di rumah mereka juga menerima perlakuan tuturan-tuturan yang menyayat hati dari kedua orang tuanya, lingkungannya bahkan guru mengajinya. Jadilah penutur dan petutur yang berkualitas. (*)

*) Penulis adalah Guru  Bahasa Indonesia  SMP Negeri 42 Muaro Jambi. Trainer TEQIP Guru Bahasa Indonesia

Loading Facebook Comments ...

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here