Opini Ngaji Politik 11: Apa Yang Menarik dari Pilkada Kita?

Ngaji Politik 11: Apa Yang Menarik dari Pilkada Kita?

109
0
BAGIKAN
Jafar Ahmad. Foto: Istimewa

Oleh: Jafar Ahmad

TAK terasa, sebentar lagi kita akan menghadapi pertarungan (kontestasi) politik jilid ke dua. Di Jambi, kontestasi itu akan berlangsung di Sarolangun, Tebo, dan Muaro Jambi. Tiga daerah ini memiliki ceritanya sendiri-sendiri. Semuanya menarik, sekaligus banyak cerita miris menghampirinya. Saya, yang ikut aktif mengamati proses di tiga lokasi Pilkada kali ini, melihat ada harapan sangat besar dari public akan hadirnya pemimpin yang bisa memberi rasa aman, nyaman, dan tentram. Harapan itu tentu pernah datang pada Pilkada-Pilkada sebelumnya dan biasanya perlahan redup setelah satu, dua tahun  mereka memangku jabatan politik itu, baik sebagai Bupati/ walikota, maupun sebagai wakil bupati/ wakil wali kota.

Tahun ini, sejauh yang saya amati, semuanya biasa saja, kecuali di Muaro Jambi. Sukandar di Tebo yang melawan mantan wakilnya Hamdi kelihatan akan sulit ditandingi. Paling tidak indicator kekuatan Sukandar adalah hasil survei yang dirilis oleh Charta politika dua minggu lalu. Cek Endra di Sarolangun seirama saja dengan Sukandar, terlihat kuat, tentu berdasarkan hasil survei. Sebagai seorang yang mengamati dan beberapa kali melakukan penelitian survei, saya memang harus percaya pada lembaga survei yang sudah berulang kali tepat memprediksi hasil Pilkada di banyak daerah. Namun, saya hanya menyayangkan, kenapa hanya Charta Politika yang memublikasikan hasil survei, kita tidak punya pilihan lain dalam melakukan analisis.

Dinamika Muaro Jambi

Seperti pernah saya bahas pada edisi Ngaji Politik beberapa minggu lalu, Muaro Jambi adalah arena kontestasi politik yang agak menarik. Jika mau disamakan, Muaro Jambi adalah miniature Pilkada DKI Jakarta. Pertarungan justeru didominasi oleh elite-elite kuat di luar para calon. Di Jakarta, SBY bertarung untuk anaknya AHY. Megawati bertarung untuk mendukung Ahok. Jokowi, meskipun tidak terlihat jelas, juka ikut memberi dukungan kepada temannya yang sekaligus pernah menjadi wakilnya pada gubernur lalu. Terakhir, Prabowo membantu Anies Baswedan bertarung memenangkan Pilkada. Mereka memiliki kepentingan yang berbeda. SBY berharap dengan kemenangan Agus, nama Demokrat akan semakin Berjaya, Mega berharap PDI Perjuangan melalui Ahok bisa lebih baik, dan Prabowo berharap kemenangan Anies bisa menjadi pengatrol dirinya untuk menjadi Presiden RI ke 8.

Hampir mirip, Muaro Jambi terlihat seperti arena kontestasi tiga kekuatan besar di masa depan. Muaro Jambi, sebagaimana telah saya bahas sebelumnya, seperti ajang pemanasan  untuk tiga orang kuat di Jambi. Burhanuddin Mahir, yang baru saja memenangkan pertarungan politik dengan HBA di Demokrat harus memberi keyakinan bahwa dirinya kuat dengan memastikan Agustian Mahir, adik kandungnya, bisa menang Pilkada. Zumi Zola, Gubernur Jambi yang sangat popular di Muaro Jambi karena menang dengan memeroleh dukungan 75% di sana juga harus memastikan dirinya adalah seorang calon “Patron” baru pengganti ayahnya. Kalau calon yang diusung Zola (Masna Busro) kalah, citra sebagai “anak manja” susah lepas darinya. Berikutnya, Syarif Fasha, Wali Kota Jambi, adalah pendukung sekaligus ketua tim pemenangan Ivan Wirata. Fasha penting memenangkan Ivan Wirata untuk memastikan bahwa tetangga terdekat Kota Jambi (muari Jambi) ini bisa ikut berknstribusi pada pembangunan Kota yang sedang ia bangun sekaligus sebagai sumber mendulang suara. Banyak sekali pejabat-pejabat penting Muaro Jambi justeru memilih tinggal di Kota Jambi. Untuk itu, kemenangan orangnya di Muaro Jambi menjadi penting bagi Fasha.

Bau Amis di Tebo dan Sarolangun

Meskipun Sukandar dan Cek Endra menang dalam survei dengan angka yang cukup siginifikan, beberapa kasus yang mengiringi keduanya terus diproduksi di tengah masyarakat. Sebagaimana diketahui Cek Endra diisukan memainkan dana miliaran rupiah yang melibatkan anaknya dalam mengatur kelulusan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) bebera tahun silam. Kondisi Cek Endra sebenarnya relative lebih aman, sebab survei yang dilakukan Charta Politika dilakukan setelah isu itu beredar.

Lain halnya dengan di Tebo. Ketika berita itu beredar, saya diminta tanggapan, apa yang harus dilakukan oleh tim agar tetap kuat? Saya hanya punya tiga alternatif. Pertama, menghetikan berita itu muncul kembali di media; kedua menghambat peredarannya di public. Jika tidak, maka sangat mungkin public akan menghentikan dukungan; dan ketiga, meminta lembaga survei melalukan survei ulang untuk melihat efek berita itu. Saya hanya mendengar, meskipun beritanya tidak muncul lagi di media-media mainstream di Jambi, berita negatife itu terus diproduksi melalui penggandaan dengan fotocopy dan disebar ke masyarakat secara massif.

Politik Uang dan “Tangan Tuhan”

Kamis, 19 September 2013 lalu,  saya menulis sebuah artikel di salah satu surat kabar dalam rangka merespon Pilkada Kerinci yang segera akan berlangsung. Saya beranggapan bahwa politik uang akan dimainkan oleh semua calon. Namun, sejauh yang saya ketahui, hanya petahana yang mampu memainkan politik uang dengan maksimal. Mereka punya perangkat baik formal maupun informal di luar struktur pemerintah. Jika uang adalah satu-satunya sumber kemanangan, saya berpikir Murasman pasti menang. Dalam kenyataannya memang Murasman menang. Meski belakangan, kemenangan itu dianulir oleh Mahkamah Konstitusi, dan Murasman, sang petahana kalah secara dramatis oleh lawannya, Adi Rozal dengan selisih hanya 779 suara.  Dalam hidup, tentu juga dalam politik, ada kekuatan-kekuatan tak terduga yang datang membantu yang satu sembari melemahkan yang lain. Banyak kejadian yang menunjukkan itu.

Nah, bagaimana dengan Sarolangun, Tebo, dan Muaro Jambi? Berdasarkan pengamatan saya pada banyak Pilkada, uang akan dimainkan sebagai sebuah instrument untuk memeroleh dukungan pemilih. Siapa yang memainkan uang dalam jumlah besar, tentu punya probabilitas besar untuk memeroleh dukungan. Namun, sebagaimana saya juga menyaksikan secara berulang dalam banyak pertarungan politik, uang bukanlah satu-satunya sumber pemenangan. Ada begitu banyak varibel yang memengaruhi kemenangan dan kekalahan seorang kandidat. Termasuk “bau-bau amis” itu? Iya, tapi sekali lagi, bukan satu-satunya!(*)

Dosen Ilmu Politik IAIN Kerinci

Loading Facebook Comments ...