Opini Pejabat dalam Pusaran Nafsu dan Sabu

Pejabat dalam Pusaran Nafsu dan Sabu

BAGIKAN
Bahren Nurdin. Foto: Istimewa

Oleh: Bahren Nurdin, MA

Membaca judul di atas,  anda akan mengira-ngira kemana arah tulisan ini. Ikut meramaikan pemberitaan yang lagi heboh di Kabupaten Tebo? Kabar yang memberitakan dugaan mantan pejabat yang selingkuh. Salah! Saya tidak ingin terjebak dalam pusaran isu tersebut. Masih gonjang-ganjing. Biarkanlah berita itu menemukan ‘takdirnya’ sendiri. Tulisan ini tidak investigatif apa lagi provokatif; mudah-mudahan edukatif. Saya hanya ingin mengajak sidang pembaca untuk menelaah realita bangsa. Pertanyaan dasarnya,  mengapa ada begitu banyak pejabat yang terjerembab dalam perangkap nafsu dan sabu (dibaca narkoba)?

Buktinya, cobalah anda baca ‘mantra’ di hadapan mbah google dengan lafal “pejabat selingkuh”, maka mbah google akan menunjukkan kepada anda hasil  ‘terawangannya’. Luar biasa, berbagai judul berita berhamburan keluar. Saya tidak perlu cuplikkan di sini karena anda pasti bisa cari sendiri. Begitu juga jika di sebutkan mantra “pejabat nyabu”. Tidak kalah seru, berita dari berbagai pelosok tanah air bermunculan ke permukaan. Itu artinya dua perkara ini (nafsu dan sabu) menjadi ‘trend’ bagi pejabat negara kita saat ini, tidak pria, tidak wanita; sama. Namun, tidak semua, dan tidak pula boleh dipukul rata.

Melawan Godaan
Siapa yang tidak tergoda? Kehidupan mapan, uang berlimpah, fasilitas mewah, gaya hidup serba wah. Baik wanita maupun pria pasti tertarik dan menjadi pusat perhatian. Maksud saya, jika dia pejabat wanita, banyak pria lain yang selain suaminya yang tertarik. Jika pejabat pria pasti banyak digandrungi para wanita baik dara maupun janda. Dulu memang kita mengenal harta, wanita, dan tahta. Artinya, seorang pria akan selalu tergoda oleh wanita. Namun hari ini, agaknya dunia memang sudah tua, pria pun sudah banyak yang menjadi penggoda; menggoda isteri orang.

Ketika gaya hidup yang sudah serba wah dengan segala fasilitas yang melimpah, di sinilah godaan mulai membuncah. Awalanya boleh saja tidak ada niat apa-apa. Saling kenal, saling sapa, saling berbagi cerita yang pada akhirnya berbagi cinta.

Memang tidak mudah untuk melawan godaan, lebih-lebih urusan nafsu syahwat dan narkoba. Banyak para ‘korban’ kehilangan akal sehat. Contohnya sudah banyak sekali. Tidak masuk akal ada ketua DPRD yang nyabu berjamaah. Ada pula Anggota dewan yang berzina dengan wanita (maaf) cacat. Tidak masuk akal. Tapi begutlah faktanya. Ketika godaan itu datang, akal ditendang!

Teknologi dan Informasi
Bukan untuk menyalahkan kemajuan teknologi, tapi ingin memberi tahu hawha siapa-siapa yang tidak siap dengan kemajuan tekhnologi dan komunikasi saaat ini dia akan menjadi mangsa. Lihat saja, sebagian besar kasus perselingkuhan diawali dengan hubungan di media sosial. Berbagi kata, berkongsi cerita, bertukar rasa, akhirnya ber-asmara. Tidak ada yang salah dengan segala kemudahan teknologi dan informasi saat ini. hanya saja dituntut kecerdasan dalam pemanfaatannya.

Kecerdasan yang dimaksud adalah menempatkan penggunaan segala fasilitas ini dengan bijaksana dan sesuai porsi juga fungsinya. Jangan sampai henfon cerdas (smartphone) lebih cerdas dari penggunanya. Itu artinya harus ada kontrol diri sehingga tidak melanggar norma-norma yang berlaku.

Penangkal
Sebenarnya ada begitu banyak faktor yang membuat para pejabat terjerumus dalam pusaran nafsu dan sabu. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menangkal ‘penyakit’ mental ini. Pertama, perkokoh iman dan taqwa. Menempatkan iman dan taqwa sebagai penjaga pintu hati. Takut kepada Allah adalah cara ampuh yang bisa ditempuh. Ketika pejabat bergelimang kemewahan dan kemudahan, maka harus ada kesadaran mendalam bahwa semua itu adalah milik Allah yang harus dipertanggungjawabkan di hadapanNya. Media bisa luput, istri atau suami bisa dibohongi, tapi siapa yang bisa membohongi Allah? Kedua, perkuat tatanan keluarga. Keharmonisan rumah tangga merupakan salah satu benteng kokoh untuk menghindari serangan gelora nafsu dan penggunaan narkotika. Jika masing-masing anggota keluarga dapat hidup dengan rukun dan damai, maka segala bentuk godaan akan dapat dihalau dengan baik. Saling asah, asih dan asuh sangat diperlukan. Ketiga, memanfaatkan kemajuan teknologi dan informasi dengan bijaksana. Tidak mudah terjebak oleh euphoria media social. Tidak boleh terlena oleh mudahnya bertukar asmara. Semua harus mampu membatasi diri.

Akhirnya, saat ini para pejabat berada dalam pusaran godaan hawa nafsu dan sabu. Ini adalah ranjau-ranjau penghancur kehidupan yang kapan saja akan menjadi mala petaka. Diperlukan benteng pertahanan yang kokoh. Pertahanan itu ada pada diri sendiri! Taubatlah!

Penulis adalah akademisi dan dosen IAIN STS Jambi

Loading Facebook Comments ...