Opini Pers dan bahaya Hoax

Pers dan bahaya Hoax

85
0
BAGIKAN
Afrioga Felmi

*Oleh Afrioga Felmi Syargawi
Pers adalah salah satu lembaga kemasyarakatan dan merupakan salah satu pilar demokrasi. Sebagai lembaga kemasyarakatan yang bergerak di bidang pengumpulan dan penyebaran informasi mempunyai misi ikut mencerdaskan masyarakat, menegakkan keadilan mencerdaskan masyarakat, memberantas kebatilan.

Fungsi pers sebagai media informasi, pendidikan, entertainment, kontrol sosial dan lembaga ekonomi selama ini sudah berjalan dengan baik. Walaupun terkadang sering berbenturan dengan kepentingan pers sebagai lembaga industri.

Tapi bahasan saya kali ini bukan tentang bagaimana kiprah dan fungsi pers selama ini, itu sudah tidak bisa dinafikan lagi bahwa pers masih sangat sangat penting ada di negeri ini. Bahasan penulis kali ini lebih kepada penyalahgunaan pers untuk kepentingan kelompok tertentu.

Yang dimaksud dengan “Penyalahgunaan Pers” adalah menyebarkan informasi atau berita fitnah, bohong atau HOAX melalui media yang tidak jelas siapa yang punya, kapan didirikannya, siapa wartawannya, dimana kantornya dan lain sebagainya yang membuat kita sebagai kaum intelek merasa sangat janggal dengan media abal-abal tersebut.

Berita Hoax ini sedang marak-maraknya beredar beberapa saat belakangan ini, membuat keresahan di masyarakat. Anak dibuat bertengkar dengan orang tuanya, tetangga saling beradu mulut, teman saling menyalahkan dan sebagainya.

Lebih jauh, dalam sejarah Islam, berita bohong dicatat sebagai penyebab pertama guncangan besar bagi tatanan keislaman yang telah dibangun oleh Nabi Muhammad. Itu terjadi saat terbunuhnya Khalifah Usman bin Affan, yang kemudian disebut sebagai al-fitnah al-kubra (fitnah besar). Saat itu, umat Islam saling menebar berita bohong tentang pembunuhan Khalifah Usman untuk kepentingan politik sehingga terjadi perpecahan pertama dalam sejarah Islam, yang bermuara pada peperangan antara Sayyidina Ali dan Muawiyah serta lahirnya sekte-sekte dalam Islam. Karena itu, tak aneh jika Sayyidina Ali buru-buru menasihati umat Islam agar jangan terjebak dalam kekacauan tersebut lantaran terprovokasi oleh berita bohong.

Diktum “perbedaan adalah rahmat” batal demi berita bohong. Padahal wacana sehat dalam perbedaan sebenarnya bersifat konstruktif. Menurut Imam Ghazali, kebenaran seperti cermin yang jatuh dari langit dan pecah di bumi. Ia disatukan dalam satu khazanah wacana keislaman, atau lebih luas lagi: keberagamaan. Karena ia bersumber dari pengetahuan dan dilakoni oleh orang-orang berpengetahuan, maka yang berkembang adalah sikap moderat, toleran, dan saling menghargai.

Ketika memikirkan hal ini, saya jadi teringat dengan pemikiran sejarawan Italia, Carlo M. Cipolla, dalam bukunya The Basic Laws of Human Stupidity (2011) yang secara lugas memaparkan anatomi kebodohan dalam sejarah.

Menurut Cipolla, ketika seseorang yang bodoh menyebabkan kerugian pada diri orang lain, maka dirinya sendiri tidak mendapatkan keuntungan dan malahan justru menimbulkan kerugian. Kebodohan, baik disadari maupun tidak oleh individu yang bersangkutan, seringkali menimbulkan kerusakan. Itulah mengapa Cipolla mengatakan bahwa kebodohan bisa lebih berbahaya dari perbanditan. Jika bandit hanya merusak fisik atau properti milik individu lain tanpa ia menulari kejahatannya, maka seseorang yang bodoh, baik disadari maupun tidak disadarinya, bisa merusak mental dan pikiran orang lain seraya ia menularkan kebodohannya. Jika ini yang terjadi, maka bisa muncul keresahan dan kerusakan tatanan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Mungkin juga ada yang beranggapan, membuat hoax dan menyebarkan hasutan adalah hal sepele dan lucu-lucuan. Tapi mereka yang beranggapan begini mesti segera insyaf.

Belajarlah dari kasus Jerman pada masa Perang Dunia II. Kala itu, pemimpin Nazi Hitler secara sadar dan sengaja membuat hoax dengan melakukan manipulasi sejarah demi membenarkan doktrin pemurnian rasnya, bahwa: bangsa Jerman ditakdirkan sebagai ubermensch, ras paling unggul dari segala ras. Para simpatisan Nazi dibuatnya terbius. Mereka berhasil dibodohi dengan sejarah palsu dan lantas menjadi permisif dengan aksi-aksi Hitler yang menitahkan para loyalisnya melakukan genosida atas jutaan orang Yahudi.

Jutaan orang Yahudi tewas mengenaskan di tangan Hitler. Dan hidup Hitler sendiri berakhir mengenaskan, ia mati bersama ideologi, kebodohan dan bualan sejarahnya.

Semoga pada hari pers ini kita berharap kepada semua pihak, baik pemerintah, lembaga dan insan pers dan seluruh lapisan masyarakat untuk melawan segala bentuk berita bohong dan fitnah. Agar bangsa ini tetap bersatu dalam kemajemukan damai dalam kehidupan dan tenang dalam keyakinan.

Selamat Hari Pers.. NKRI Harga Mati, Pancasila Jaya. Wallahua’lam bisshawab

Penulis adalah mantan jurnalis dan Pengurus Pusat Gerakan Pemuda Ansor

Loading Facebook Comments ...

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here