Opini Pilgub 2020; Fasha Menantang Zola (?)

Pilgub 2020; Fasha Menantang Zola (?)

0
BAGIKAN

Oleh: Stevan Ivana Manihuruk, S.Sos

KOTA Jambi semakin bertabur prestasi. Demikian kalimat pembuka dalam situs jambiindependent.com (31/1) yang merilis berita penyerahan penghargaan tertinggi di bidang lalu lintas yaitu Wahana Tata Nugraha oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla kepada Walikota Jambi H. Syarif Fasha sebagai kepala daerah dengan kinerja terbaik tahun 2016 dalam bidang lalu lintas dan angkutan jalan untuk kategori kota besar.

Pemkot Jambi dinilai berprestasi dalam penataan transportasi yang berkelanjutan, berbasis kepentingan publik dan ramah lingkungan. Hebatnya lagi, penghargaan tersebut adalah yang ke-3 kalinya secara berturut-turut diterima Kota Jambi sejak di bawah kepemimpinan Syarif Fasha. Kota Jambi telah menerima penghargaan yang sama pada tahun 2014 dan 2015 lalu.

Saking penasaran dengan istilah “bertabur prestasi”, kemudian saya mencoba menelusurinya. Saya tiba di situs resmi pemerintah kota Jambi dan disana tercatat sebagai berikut; Tahun 2015, Fasha menerima Lencana Dharma Bhakti dari Presiden Joko Widodo. Tahun 2015, kota Jambi (melalui kreatifitas dan inovasi Puskesmas Putri Ayu dalam meningkatkan pelayanan kepada masyarakat) mendapat Piala Inovasi Pelayanan Publik Kategori Kota tahun 2015.

Masih di tahun yang sama (2015), Kota Jambi terpilih menjadi kota terbaik dalam kreatifitas peningkatan PAD sehingga diganjar Government Award tahun 2015. Bulan November 2015, giliran Kementerian LHK yang memberikan anugerah adipura untuk kota Jambi. Bulan September 2015, kota Jambi diberikan penghargaan K3 Award tahun 2015 atas komitmen pelaksanaan keselamatan dan kesehatan pekerja dalam lingkungan perusahaan di Kota Jambi. Bulan Desember 2016, Wahana Tata Nugraha 2015 menjadi milik kota Jambi.

Saya mencoba menelusuri sumber informasi yang lain dan menemukan bahwa untuk tahun 2016, kota Jambi kembali menerima penghargaan Government Award untuk kategori Tata Kelola Pemerintahan Yang Baik. Di bidang pendidikan, kota Jambi memperoleh KiHajar Award setelah setahun sebelumnya (2015) juga memperoleh penghargaan yang sama. Ada lagi penghargaan Kota Jambi sebagai Kota Langit Biru dari Kementerian LHK yaitu hasil evaluasi kualitas udara perkotaan yang dilaksanakan di Indonesia. Tahun 2014, berbagai prestasi juga diraih kota Jambi di bawah kepemimpinan Syarif Fasha.

Modal di Pilgub

Dengan sederetan prestasi Fasha tersebut, timbul pertanyaan menggelitik. Mungkinkah itu akan menjadi modal baginya untuk maju dalam Pilgub (Pemilihan Gubernur) tahun 2020 mendatang. Barangkali, masih terlalu dini untuk membahasnya. Namun kita juga tidak boleh menutup mata dengan fakta-fakta yang ada. Dalam kontestasi politik, tidak ada yang tak mungkin apalagi jika kita melihat fakta dan contoh-contoh yang ada.

Pilgub Jambi 2015 lalu misalnya merupakan pertarungan head to head antara petahana (incumbent) dengan seorang mantan Bupati. Mundur lebih jauh lagi, pada Pilgub 2010 bahkan terjadi pertarungan sengit antara 4 (empat) orang mantan Bupati sekaligus. Artinya, ajang pemilihan Gubernur (tidak hanya di Jambi) hampir selalu diikuti oleh mantan kepala daerah tingkat dua (kabupaten/kota) yang ingin “naik kelas”. Modal pentingnya tentu saja karena menganggap dirinya sudah berprestasi dan ingin memikul tanggung jawab yang lebih besar lagi.

Sehingga tidak ada salahnya mencoba melakukan kalkulasi kekuatan seandainya benar-benar terjadi pertarungan Fasha dan Zola di Pilgub mendatang. Khusus Zola, hampir dapat dipastikan bahwa dirinya tentu ingin melanjutkan periode pemerintahannya untuk lima tahun mendatang. Di era demokrasi berbiaya mahal seperti saat ini, hampir tidak ada kepala daerah yang merasa cukup memerintah dalam satu periode saja.

Meski rejim saat ini mengumandangkan visi Jambi Tuntas, tidak berarti bahwa Zola akan merasa cukup alias tuntas dengan jabatan satu periode saja. Dengan alasan ingin melanjutkan program agar benar-benar tuntas, atau mengakui memang belum tuntas, sudah cukup baginya untuk maju dan bertarung kembali. Ditambah lagi, dengan mandat alias perintah partai politik yang akan mengusung.

Menurut hemat saya, Fasha menjadi salah satu calon yang paling potensial untuk menantang Zumi Zola pada Pilgub mendatang. Selain sederetan prestasi yang sudah diraih sebagai Walikota Jambi, Fasha juga merupakan fungsionaris Partai Golkar yang memiliki basis massa yang kuat dan tersebar di seluruh kabupaten/kota di provinsi Jambi.

Salah satu persoalan terbesar Fasha seandainya maju pada Pilgub mendatang adalah keterkenalan (popularitasnya) secara khusus di kabupaten/kota lainnya yang ada di provinsi Jambi. Namun sekali lagi, persoalan itu kemungkinan bisa terjawab dengan “menjual” prestasi yang sudah diraihnya termasuk mengoptimalkan peran para kepala daerah yang kebetulan sama-sama bernaung di partai berlambang beringin tersebut.

Sosok Fasha terbilang mampu mengimbangi bahkan bukan tidak mungkin justru mampu mengalahkan karisma Zumi Zola. Sosok muda, ganteng, cerdas, relijius, ramah, disenangi pemilih pemula yang sangat melekat pada Zola pun sedikit banyaknya juga dimiliki Fasha. Bahkan dalam beberapa hal, terlihat bahwa Fasha sudah “mengungguli” Zola.

Dalam hal keaktifan menyapa warga di media sosial (medsos) misalnya, boleh dikatakan Fasha justru lebih aktif dibanding Zola. Padahal di era sekarang ini, dunia maya (medsos) pun sudah bisa memengaruhi preferensi pilihan politik, mengingat tingkat melek internet di masyarakat terus meningkat tajam dari waktu ke waktu.

Contoh peristiwa lainnya adalah ketika kemarin, ramai media memberitakan Fasha yang berhasil mengislamkan ratusan warga Suku Anak Dalam (SAD) dari Taman Nasional Bukit Dua Belas. Pembacaan syahadat dilangsungkan di Balai Adat Kota Jambi. Pertanyaan menggelitik secara politis, mengapa bukan Gubernur yang langsung memimpin acara tersebut, mengingat domisili administratif warga SAD tidak berada di wilayah kota Jambi ?.

Tulisan ini tentu tidak sekadar ingin membandingkan apalagi mengadu sosok Fasha dan Zola. Saya hanya ingin menyuarakan harapan publik bahwa di era demokrasi saat ini, warga butuh sosok pemimpin yang kuat dan berprestasi.

Gubernur saat ini sudah jelas-jelas memiliki calon kompetitor yang seimbang dengan rekam jejak prestasi yang sudah diraih. Maka tidak ada pilihan lain, jika ingin maju dan menang, Gubernur harus lebih giat bekerja dan menghasilkan prestasi-prestasi. Memang, prestasi dan penghargaan tidak selalu bisa dijadikan ukuran mutlak yang menunjukkan kinerja. Namun setidaknya itu adalah indikator pengakuan pihak luar yang menunjukkan bahwa pemerintahan sedang dan telah serius bekerja.

Akhirnya, kita ingin Pilgub Jambi mendatang akan menghadirkan calon-calon yang telah terbukti berprestasi untuk saling adu gagasan dalam rangka membangun Jambi. Satu hal yang pasti, seandainya pada Pilgub mendatang menjadi ajang pertarungan head to head antara Fasha dan Zola, maka siapapun yang terpilih, minimal provinsi Jambi akan tetap terkenal karena memiliki Gubernur yang muda dan ganteng. (*)

*Penulis adalah Alumnus FISIPOL USU Seorang PNS, tinggal di Jambi

Loading Facebook Comments ...

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here