Tanah Pilih Sekolah Diminta Awasi Siswa

Sekolah Diminta Awasi Siswa

422
0
BAGIKAN
Suasana pelajar SMA saat konvoi kelulusan belum lama ini. Budaya konvoi dan mencoret baju seragam selalu terjadi pasca pengumuman kelulusan. Foto: Dok/Jambi Independent

JAMBI – Kejadian tewasnya siswa SMPN karena aksi konvoi saat kelulusan memberikan simpati dan penyesalan bagi semua pihak. Ketua Komisi IV Aprizalpun menyayangkan hal ini. Menurutnya, masih terjadinya aksi konvoi setelah lulus ujian menunjukan tidak adanya komunikasi yang baik antara pihak sekolah dengan orang tua siswa. Karena dua pihak tersebutlah yang memiliki peran yang sangat besar untuk mencegah terjadinya aksi konvoi.

“Komunikasi sekolah dengan orang tua murid kurang baik. Seharusnya kedua pihaklah yang bisa mencegah aksi konvoi ini” tegasnya.

Padahal menurutnya sejak awal sudah ada himbauan dari Dinas Pendidikan dan sekolah untuk tidak mengumumkan hasil UN dan hanya menyampaikan hasil UN ke orang tua siswa.

“Sangat kita sayangkan kejadian ini. Kalau saja semua pihak berperan aktif saya rasa kejadian ini tak akan terjadi,”bebernya.

Dikatakan Aprizal bahwa ketika merayakan kelulusan beberapa hari lalu, anak-anak sekolah bukan hanya konvoi namun terkadang juga ada yang tawuran. “Miris kita lihat anak-anak sekarang, baru SMP mereka itu. Tapi sudah menjadi liar dan beringas, ada apa sebenarnya. Inikan jelas moral yang sudah hilang,”bebernya.

Dikatakannya bahwa kasus ini akan menjadi bahan dan pertanyaan yang akan disampaikan oleh komisi IV DPRS kota Jambi ke dinas pendidikan dan kepala sekolah.

“Ini akan jadi bahn kami ke kepala sekolah dan dinas pendidikan dalam hearing nanti. Kita akan pertanyakan masalah ini,”bebernya.

Dirinya berharap dinas pendidikan bisa melakukan evaluasi terhadap sekolah yang siswanya masih melakukan konvoi dalam merayakan kelulusan. “Karena sekolah sudah gagal menghilangkan budaya lama yang tak baik itu. Ini juga bisa diartikan bahwa  sekolah sudah gagal memberikan pendidikan moral yang baik pada anak-anak. Dan juga orang tua tidak memberikan pedoman pada anak, sehingga budaya selama ini yang tak baik masih diteruskan.

Apalagi konvoi dilakukan oleh anak-anak SMP yang dalam aturan belum boleh mengendarai sepeda motor. Orang tua juga salah kenapa memberikan anak kendaraan, usia mereka masih labil. Orang tua jangan hanya melepaskan pendidikan anak kesekolah tanpa ada pantauan,” bebernya. (viz)

Loading Facebook Comments ...